Di Balik Jeruji Singa Babel
Danial adalah simbol tentang bagaimana iman menuntut keberanian. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan pada Tuhan tak selalu berpihak pada kenyamanan. Kadang ia berarti melawan arus, bertahan di bawah ancaman, bahkan berhadapan dengan singa yang lapar. Tapi justru di situlah iman menemukan maknanya—bukan dalam kemewahan istana, melainkan di lubang gelap yang penuh doa.
Kini, ribuan tahun kemudian, kisah itu tetap hidup. Ia muncul dalam tafsir, dalam kitab, dalam cerita rakyat yang diceritakan kembali di rumah-rumah pengajian atau gereja kecil di pelosok dunia. Danial mengingatkan: keberanian spiritual bisa lahir dari keterasingan. Di tengah dunia yang memuja popularitas dan kompromi, kisahnya menegaskan bahwa integritas bukan sekadar sikap—ia adalah bentuk tertinggi dari keimanan.
Danial, sang penafsir mimpi, bukan hanya membaca bayangan raja di malam hari. Ia membaca batin manusia—ketakutan, keserakahan, dan keyakinan. Ia adalah bukti bahwa di balik jeruji singa Babel, ada jiwa yang tetap bebas. []
Muhibbullah Azfa Manik
