JEJAK SEJARAH

Di Balik Jeruji Singa Babel

Ia tak tercantum dalam daftar 25 nabi yang wajib dikenal. Namun, kisahnya tentang politik istana, fitnah, dan mukjizat di kandang singa telah melintasi batas keyakinan, dari Alkitab hingga riwayat Islam. Inilah sekeping riwayat Nabi Danial—sang penafsir mimpi yang tersisih di negeri asing.

Langit Babilonia pada abad ke-6 sebelum Masehi adalah panggung bagi intrik kekuasaan yang dingin. Di antara gemerlap istana Raja Nebukadnezar—atau Bakhtashar, sebagaimana riwayat Islam menyebutnya—hadir seorang pemuda Bani Israil dengan kecerdasan yang mencolok. Namanya: Danial.

Ia datang bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan tawanan perang. Baitul Maqdis luluh lantak, dan para pemuda pilihan dijadikan rampasan untuk mengabdi di istana Babel. Namun takdir kerap menyelipkan kejutan di sela reruntuhan. Danial, dengan kecerdasan dan ketajaman batinnya, segera menonjol. Ia bukan sekadar budak. Ia menjadi penerjemah mimpi, penafsir rahasia, penasihat raja—mata dan telinga yang dipercaya dalam kerajaan asing. Sebuah posisi strategis, sekaligus berbahaya.

Skenario survival Danial di Babilonia sungguh klasik: keberhasilan mengundang dengki. Para petinggi Majusi dan pejabat istana melihatnya sebagai ancaman. Di mata mereka, Danial adalah orang luar—seorang tawanan Yahudi—yang berani membawa keimanan tunggalnya ke jantung negeri penyembah berhala. Ia menolak tunduk kepada dewa-dewa Babel. Danial adalah minoritas yang terlalu jujur, terlalu bersinar.

Maka disusunlah makar politik yang licik. Para pembenci itu tak menyerang langsung, melainkan memukul dari sisi yang paling sakral: keyakinan. Mereka mendekati raja, membisikkan siasat halus yang dibungkus pujian. “Wahai Raja, engkau layak disembah sebagai satu-satunya yang berkuasa. Tetapkanlah hukum agar selama sebulan tak ada seorang pun yang menyembah tuhan selain engkau,” kata mereka.

Nebukadnezar yang haus sanjungan menyetujui tanpa curiga. Dekret diumumkan ke seluruh negeri. Dalam istilah politik masa kini, itu adalah jebakan elegan—sting operation—yang dirancang hanya untuk satu orang: Danial.

Mereka tahu tabiatnya. Tiap pagi dan sore, Danial menghadap kiblat dan berdoa kepada Tuhannya. Begitu dekret ditetapkan, mata-mata istana mengintai dari balik jendela. Danial tetap bersujud. Ia tahu risikonya, tapi memilih Allah di atas tahta raja. Maka ia ditangkap dan dijatuhi hukuman: dilempar ke lubang singa.

Di sinilah kisah sejarah berubah menjadi legenda. Lubang gelap yang seharusnya menjadi kuburan berdarah berubah menjadi ruang hening di mana dua ekor singa buas berlutut. Dalam sebagian riwayat disebut, Allah mengutus malaikat untuk menutup mulut singa. Di tengah kegelapan, Danial berzikir, sementara napas binatang buas itu menghangatkannya seperti hembusan angin gurun yang lembut. Ia hidup dalam teror, tapi dilindungi oleh kuasa yang tak kasat mata.

Pagi menjelang. Ketika batu penutup lubang digeser, para penjaga terperangah. Danial keluar tanpa luka, jubahnya tetap utuh. Singa-singa itu tetap di tempatnya, jinak dan diam. Di hadapan istana yang gemetar, mukjizat itu adalah deklarasi sunyi: tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kebenaran iman.

Beberapa ulama, seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir, menempatkan Danial sebagai salah satu nabi Bani Israil yang mendapat wahyu tentang masa depan. Dalam sebagian catatan, ia disebut menubuatkan kedatangan Nabi Muhammad Saw, berabad-abad sebelum Isa as lahir. Ia membaca zaman yang belum datang, seperti melihat peta takdir dari balik tirai sejarah. Pandangan ini meneguhkan posisi Danial bukan sekadar penafsir mimpi, tetapi penafsir masa depan.

Jejak jasadnya pun menjadi kisah tersendiri. Ketika pasukan Islam menaklukkan Tustar (kini di wilayah Iran) pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Abu Musa Al-Asy’ari menemukan jasad seorang lelaki di peti batu—masih utuh meski berusia ratusan tahun. Penduduk menyebutnya Danial. Mereka menganggap jasad itu membawa berkah, bahkan dijadikan wasilah untuk meminta hujan.

Kabar itu sampai ke Madinah. Umar ra gusar: kekaguman bisa berubah menjadi penyimpangan. Ia memerintahkan agar jasad itu dikuburkan secara rahasia. Abu Musa pun menggali tiga belas lubang di siang hari dan menguburkannya di malam hari hanya di salah satunya. Tak seorang pun tahu di mana jasad itu kini bersemayam. Sebuah tindakan politik iman yang bijak: menjaga akidah tanpa menafikan penghormatan pada seorang nabi.

1 2Laman berikutnya
Back to top button