OPINI

Didukung Trump, Kaum Nasionalis Evangelikal Hancurkan Tatanan Moral Dunia

Brutalisasi norma global oleh tokoh-tokoh seperti Pete Hegseth (Menhan AS) harus dilihat sebagai persoalan etika. Ini adalah perjuangan melawan kekacauan, dan semua agama besar harus berperan.

Perpecahan seperti ini bukanlah hal baru. Namun, dalam menghadapi krisis global, para pemimpin agama memiliki tanggung jawab moral untuk bersatu, menolak perang, dan memperjuangkan keadilan. Semua umat beragama—baik di masjid, sinagoga, maupun gereja—memiliki kepentingan yang sama: menjaga kebebasan dasar manusia untuk hidup, bekerja, dan beribadah tanpa takut akan kekerasan dan manipulasi politik.

Terlepas dari retorika apokaliptik Trump dan pembicaraan tentang “akhir zaman”, perang ini mungkin mendorong masyarakat Amerika untuk meninjau kembali hubungan moral mereka dengan dunia. Apakah Trump satu-satunya yang harus disalahkan?

Kolumnis AS Lydia Polgreen mempertanyakan hal itu, dengan menyatakan bahwa Trump mungkin hanyalah cerminan dari keyakinan lama Amerika tentang keistimewaan dan hak untuk membentuk dunia sesuai kehendaknya.

Harapannya pada Paskah ini adalah agar Trump dan para pejabatnya menghentikan “perang salib” terhadap Iran dan melakukan refleksi diri. Menurut penulis, kaum nasionalis evangelikal garis keras di AS adalah versi modern dari “tentara Kristen yang berjalan mundur”—bergerak dengan penuh semangat, tetapi menuju arah yang salah. []

Sumber: The Guardian

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button