Di Piala Dunia, Media Barat Mendirikan Pos Pemeriksaan Moral
Ketika para pemain dari Amerika Serikat dan Eropa cukup bermain sepak bola, para pesepak bola dari Global South (Belahan Bumi Selatan) justru harus diinterogasi soal politik.
Oleh: Patrick Gathara, Editor Senior untuk Inclusive Storytelling di The New Humanitarian.
“Mengapa tim-tim Afrika dan Timur Tengah harus menjawab atas apa yang dilakukan pemerintah mereka, sementara tim-tim Eropa tidak?” tanya komedian Afrika Selatan, Trevor Noah, baru-baru ini dalam sebuah acara nonton bareng Piala Dunia.
Ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para jurnalis Barat kepada pemain-pemain Iran setelah pertandingan mereka. Namun, persoalan ini jauh melampaui Iran.
Hal ini mencerminkan hierarki yang sudah lama mengakar dalam jurnalisme global. Sebagian pemain dibiarkan menjadi atlet, sementara sebagian lainnya diubah menjadi duta negara, terdakwa, sekaligus objek pameran moral.
Piala Dunia kerap dipromosikan sebagai ajang ketika sepak bola melampaui politik. Kenyataannya, anggapan itu selalu merupakan ilusi.
Politik beserta kemunafikannya selalu menjadi bagian dari olahraga ini. Ada tim yang memboikot atau dilarang mengikuti kompetisi karena kebijakan pemerintah mereka.
Rusia dilarang karena invasinya ke Ukraina. Afrika Selatan pada akhirnya juga dilarang karena menerapkan apartheid.
Namun, Israel tetap diizinkan mengikuti babak kualifikasi meskipun menduduki Palestina, Lebanon, dan Suriah, serta membombardir Iran. Padahal, Amnesty International, Human Rights Watch, dan para pakar PBB menemukan bahwa negara itu melakukan genosida di Gaza dan mempertahankan sistem apartheid.
Amerika Serikat pun tidak pernah dikenai larangan. Padahal, mereka telah berkali-kali melancarkan perang agresi.
Piala Dunia juga bukan pengecualian. Berbagai ajang olahraga dan kebudayaan internasional dipenuhi politik dan kemunafikan yang dibungkus dengan dalih prinsip.
Lihat saja kontroversi mengenai keikutsertaan Israel dalam Eurovision. Pertanyaan Trevor Noah sesungguhnya merupakan dakwaan terhadap praktik jurnalisme yang gemar membayangkan dirinya sedang menantang kekuasaan.
Padahal, mereka sering kali hanya memantulkan asumsi-asumsi kekuasaan itu sendiri. Banyak tinta telah dihabiskan untuk memperdebatkan layak atau tidaknya Rusia dan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 karena kebijakan pemerintah mereka.
Namun, hampir tidak ada pengujian yang sama terhadap kelayakan Amerika Serikat menjadi tuan rumah turnamen kali ini. Padahal, negara itu sedang menyerang Iran dan Venezuela, mendeportasi para pencari suaka, serta menghalangi perjalanan para pejabat turnamen, pemain, dan suporter.
Akuntabilitas yang diterapkan secara selektif—siapa yang dilarang dan siapa yang boleh menjadi tuan rumah—ternyata juga berlaku di ruang konferensi pers. Karena itu, tidak mengherankan jika pertanyaan-pertanyaan politik hanya disiapkan untuk tim-tim tertentu.






