Ditunjuk Jadi Ketua Komite Nasional Administrasi Gaza, Inilah Sosok Ali Shaath
Gaza (SI Online) – Di tengah puing-puing bangunan yang rata dengan tanah, tenda-tenda pengungsian yang terombang-ambing angin, dan krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda mereda, satu nama kembali mencuat dalam percakapan politik dan kemanusiaan Palestina: Ali Abdel Hamid Shaath.
Insinyur sipil kelahiran Khan Younis ini kini dipercaya memimpin Komite Nasional Palestina untuk Administrasi Jalur Gaza (NCAG), sebuah badan teknokrat yang dibentuk untuk mengelola wilayah tersebut setelah kehancuran luas akibat perang Israel.
Penunjukan Shaath datang pada saat Gaza berada di titik nadir—dihantam agresi militer, blokade berkepanjangan, serta tuduhan internasional terhadap Israel atas pelanggaran berat hukum humaniter internasional.
Bagi banyak warga Gaza yang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, nama Ali Shaath bukan sekadar pejabat. Ia dipandang sebagai figur teknis yang diharapkan mampu menerjemahkan rencana di atas kertas menjadi pemulihan nyata di lapangan.
Baca juga: AS Umumkan Komite Nasional Administrasi Gaza, Ketuanya Eks Wakil Menteri PA Ali Shaath
Dari Khan Younis ke Panggung Internasional
Ali Abdel Hamid Shaath lahir pada 1958 di Khan Younis, Jalur Gaza selatan—kota yang kini menjadi salah satu simbol kehancuran paling parah akibat perang. Ia menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Ain Shams, Kairo, pada 1982, disusul gelar Magister pada 1986.
Puncak pendidikannya diraih pada 1989, ketika ia memperoleh gelar doktor (PhD) Teknik Sipil, dengan spesialisasi Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Perkotaan, dari Queen’s University Belfast, Inggris Raya. Keahlian inilah yang kemudian menjadi fondasi utama kiprahnya dalam pembangunan Palestina.
Karier Pembangunan Tanpa Afiliasi Partai
Sepanjang kariernya, Shaath dikenal sebagai teknokrat yang tidak terafiliasi langsung dengan partai politik. Ia menduduki berbagai posisi strategis di lembaga-lembaga Otoritas Nasional Palestina, terutama pada fase awal pembentukan institusi negara.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perencanaan dan Kerja Sama Internasional, terlibat dalam penyusunan rencana pembangunan strategis nasional. Dalam kapasitas ini, Shaath turut merancang kebijakan yang bertujuan menopang perekonomian Palestina yang tercekik oleh pendudukan dan pembatasan Israel.
Ia juga dipercaya sebagai Wakil Menteri Perhubungan dan Komunikasi, mengawasi proyek-proyek infrastruktur vital dan jaringan jalan—sektor yang kerap menjadi sasaran penghancuran dalam setiap eskalasi militer Israel.
Shaath kemudian memimpin Otoritas Kawasan Industri Palestina, berupaya mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di tengah ekonomi yang terfragmentasi. Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perumahan Palestina dan Kepala Otoritas Pelabuhan Palestina, terlibat langsung dalam pengelolaan sektor perumahan dan akses maritim—dua bidang yang sangat dibatasi oleh kebijakan Israel.
Dalam peran penasihat, ia bekerja sebagai konsultan Yayasan Pembangunan dan Rekonstruksi Palestina (PDRF) serta penasihat Menteri Perumahan dan Pekerjaan Umum, memperkuat pendekatan berbasis keahlian teknis dan perencanaan jangka panjang.
Dari Meja Negosiasi ke Manajemen Pascaperang
Secara politik, Shaath juga memiliki pengalaman penting sebagai anggota komite negosiasi status akhir pada 2005, yang membahas isu-isu krusial seperti perbatasan dan akses maritim—dua aspek yang hingga kini masih menjadi titik sengketa utama akibat pendudukan Israel.






