#PSBB JakartaNASIONAL

Doni Monardo: Perintah Presiden Tidak Ada Mudik

Jakarta (SI Online) – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona (COVID-19) Letjen TNI Doni Monardo meminta agar masyarakat membatalkan niat untuk mudik sepanjang pandemi COVID-19 masih terjadi.

“Perintah Presiden, tidak ada mudik, sekali lagi tidak ada mudik, semuanya kita bisa menahan diri dan bersabar untuk tidak mudik terlebih dahulu,” kata Doni Monardo di kantornya, Jakarta, Senin 4 Mei 2020.

Doni menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti rapat terbatas dengan tema “Laporan Tim Gugus Tugas COVUD-19” yang dipimpin Presiden Joko Widodo melalui video conference.

Presiden Joko Widodo menyatakan larangan mudik bagi seluruh masyarakat Indonesia sejak 21 April 2020 untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih luas lagi.

Kementerian Perhubungan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan No 25 tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Ruang lingkup dari peraturan tersebut adalah, larangan sementara penggunaan sarana transportasi umum, baik untuk transportasi darat, laut, udara, dan kereta api, serta kendaraan pribadi dan sepeda motor, dengan tujuan keluar dan atau masuk wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau pembatasan sosial berskala besar, wilayah zona merah penyebaran COVID-19, dan Jabodetabek atau wilayah aglomerasi lainnya yang telah ditetapkan pembatasan sosial berskala besar

“Masyarakat diingatkan jangan mencuri-curi kesempatan karena kalau hal itu masih dilakukan maka akan menimbulkan risiko bagi kampung halaman. Kebiasaan kita untuk bertemu dan berpelukan, bersalaman dengan orang-orang yang kita sayangi, berdekatan justru membahayakan mereka,” kata Doni yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu.

Karena pemudik bisa saja tidak sadar bahwa mereka menderita COVID-19, namun dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Kita telah menjadi carrier sebagai pembawa virus dan ketika kita menyentuh saudara kita, kita malah menulari. Bila yang tertular adalah kelompok rentan dan memiliki penyakit penyerta maka risiko terpapar dan terinfeksi, sakit ringan, sedang bahkan bisa meninggal. Apabila kita sayang keluarga, untuk sementara ini tahan untuk tidak pulang dulu,” kata Doni.

Mantan Danjen Kopassus itu mengajak agar masyarakat betul-betul patuh larangan pemerintah.

“Betul-betul kita bisa menghindari keinginan untuk pulang agar kita semua menjaga diri tidak terpapar dan tidak tertular. Di beberapa provinsi bahkan kasusnya nihil, jangan sampai ada pemudik malah ada kasus baru sementara di daerah dokter, perawat, rumah sakit terbatas. Jumlah dokter paru kita adalah 1.973 artinya 1 dokter paru melayani 1,2 juta warga negara Indonesia,” ungkap Doni.

Dengan ketaatan masyarakat tidak mudik maka dokter dan tenaga medis lainnya tidak akan menjadi kelelahan dan malah menurun imunitas tubuhnya hingga berpotensi terpapar COVID-19.

“Kalau kita sayang dokter kita jangan merepotkan para dokter dan perawat termasuk juga bagi ODP (Orang dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang tidak disiplin dan masih keluar dari tempat isolasi ODP dan PDP bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” tambah Doni.

sumber: ANTARA

Artikel Terkait

Back to top button