Dosa yang Mengalir, Ayat yang Menegur
Garis Terang di Tengah Istilah yang Kerap Keliru
Apa yang oleh masyarakat disebut dosa jariyah adalah istilah populer yang memberi nama pada fenomena yang sangat logis: dosa yang terus bertambah selama perbuatan buruk seseorang menghasilkan dampak buruk yang berkelanjutan.
Tidak ada perpindahan, tidak ada warisan dosa. Yang ada hanyalah konsekuensi lanjutan dari sebuah perbuatan.
Dalam bahasa lain, jika seseorang menyalakan api di hutan, setiap hektare yang terbakar bukanlah “dosa pohon lain” yang berpindah kepadanya. Itu tetap dosa dirinya sendiri — hanya saja apinya terus membesar.
Beban yang Tak Pernah Pindah
Sore itu, saat matahari tenggelam di balik gedung-gedung kampus, Rangga merasakan sesuatu yang mengendap.
Konsep yang semula kabur perlahan menjadi terang. Bahwa Islam konsisten: setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tapi tindakan seseorang dapat menciptakan rantai akibat yang membuat dosanya terus bertambah seiring waktu.
Rasid menutup majelis dengan satu kalimat pendek: “Jika pahala jariyah lahir dari kebaikan yang mengalir, maka dosa jariyah lahir dari keburukan yang tak dihentikan. Keduanya bukan tentang memikul dosa orang lain, tetapi tentang jejak yang kita tinggalkan.”
Dan dalam dunia yang serbaterhubung seperti hari ini, jejak itu bisa lebih panjang daripada hidup manusia itu sendiri.[]
Muhibbullah Azfa Manik, Dosen di Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.






