Enam Puluh Tahun: Menghitung Langkah Menuju Pulang
Menjadi Musafir
Suatu sore, Jamaluddin menghadiri pemakaman sahabat lamanya. Usianya hampir sama. Sehat. Tidak sakit lama. Pergi begitu saja.
Di tepi liang lahat, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan ketakutan, melainkan kepastian.
Suatu hari ia akan berada di tempat yang sama.
Sejak hari itu, kebiasaannya berubah. Ia lebih rajin menelpon saudara yang lama tak dihubungi. Ia meminta maaf kepada teman lama. Ia mulai bangun malam meski hanya beberapa menit.
“Seperti musafir yang sadar perjalanan hampir selesai,” katanya.
Para ulama sering menggambarkan manusia sebagai pengembara. Dan usia enam puluh adalah saat ketika seorang musafir mulai menghitung bekal dengan sungguh-sungguh.
Bukan lagi soal seberapa jauh berjalan, tetapi apakah bekalnya cukup untuk sampai.
Air Mata yang Berbeda
Ada perubahan kecil yang jarang disadari orang muda: semakin tua seseorang, semakin mudah ia tersentuh.
Hasan Basri mengaku kini sering menangis saat sujud. Padahal dulu ia dikenal keras dan jarang menunjukkan emosi.
“Entah kenapa hati jadi lembut,” katanya.
Barangkali karena manusia akhirnya memahami betapa banyak nikmat yang dulu dianggap biasa.
Napas yang masih ada.
Keluarga yang masih lengkap.
Kesempatan untuk bertobat yang belum tertutup.
Usia enam puluh bukan hanya tentang mendekati akhir. Ia justru kesempatan terakhir untuk memperbaiki arah.

