RESONANSI

Enam Puluh Tahun: Menghitung Langkah Menuju Pulang


Pulang Sebelum Dipanggil

Menjelang magrib, Jamaluddin kembali duduk di teras rumahnya. Langit berwarna jingga. Ia memandangi cucunya bermain di halaman.

Dulu ia merasa hidup harus cepat. Harus banyak. Harus berhasil.

Kini ia memahami sesuatu yang sederhana: hidup sebenarnya perjalanan pulang.

Tidak ada manusia yang tinggal selamanya. Semua hanya singgah sebentar.

Usia enam puluh, mungkin, adalah pesan paling lembut dari Tuhan—sebuah panggilan tanpa suara:

waktunya merapikan bekal,
mengurangi beban,
dan meluruskan langkah.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukan panjangnya umur, melainkan isi dari umur itu sendiri.

Dan bagi mereka yang telah sampai di angka enam puluh, hidup seakan berbisik pelan:

Pulanglah…
sebelum engkau benar-benar dipanggil pulang.

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button