FEM IPB Gelar Strategic Talk Series Bahas Konsep Marketomics sebagai Pendekatan Baru Memahami Pasar

Bogor (Suaraislam.id) – Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University kembali menggelar Strategic Talk Series 2 bertema “Marketomics: Beyond Market Economics” di Ruang Equilibrium FEM IPB, Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis FEM IPB University ini diselenggarakan oleh Departemen Manajemen sebagai tuan rumah.
Forum akademik tersebut menghadirkan Budi Purwanto sebagai narasumber utama dengan para pembahas Dedi Budiman Hakim, Yusman Syaukat, Suharno, dan Ranti Wiliasih. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk membahas perkembangan pemikiran ekonomi di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Budi Purwanto menekankan perlunya evaluasi terhadap cara ilmu ekonomi dan manajemen memahami pasar modern. Menurutnya, ekonomi pasar konvensional selama ini terlalu berfokus pada indikator seperti harga, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan efisiensi, sementara aspek yang lebih mendasar seperti penciptaan nilai, keberlanjutan, kualitas kelembagaan, dan sinkronisasi antar pasar belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Karena itu, ia memperkenalkan konsep Marketomics sebagai pendekatan baru yang memandang pasar sebagai ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan ini tidak hanya melihat pasar modal secara terpisah, tetapi juga memperhatikan keterkaitan antara pasar tenaga kerja, pasar produk, dan pasar keuangan dalam menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Menurut Budi, indikator ekonomi selama ini sering diperlakukan sebagai gambaran utuh kesejahteraan masyarakat, padahal indikator tersebut hanyalah alat ukur yang memiliki keterbatasan.
“Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi belum tentu menggambarkan pengalaman nyata masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Karena itu diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk membaca kesehatan ekonomi secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep Marketomics terinspirasi dari pendekatan genomik atau omics dalam ilmu hayati yang melihat suatu sistem secara utuh dan saling terhubung. Dengan cara pandang tersebut, ekonomi dan manajemen tidak lagi dipahami sebagai proses linear yang sederhana, melainkan sebagai ekosistem kompleks yang melibatkan berbagai dimensi seperti produksi, pemasaran, akuntansi, kelembagaan, perilaku, hingga legitimasi sosial.
Budi menegaskan bahwa fokus utama Marketomics bukan hanya pada efisiensi dan pembentukan harga, tetapi juga pada bagaimana nilai ekonomi diciptakan, didistribusikan, dipertahankan, dan diterima secara sosial. Oleh karena itu, pendekatan ini menekankan pentingnya diagnosis risiko, kualitas pasar, keberlanjutan sistem, serta keseimbangan antar sektor ekonomi.
Dalam sesi pembahasan, Suharno menilai sebagian besar elemen yang terdapat dalam Marketomics sebenarnya telah berkembang dalam berbagai cabang ilmu ekonomi sebelumnya. Menurutnya, tantangan utama pendekatan tersebut adalah memperjelas posisi teoritisnya, apakah merupakan teori ekonomi baru atau perluasan dari teori ekonomi yang sudah ada.
Sementara itu, Yusman Syaukat mengaitkan konsep Marketomics dengan tradisi Austrian Economics, khususnya pemikiran Ludwig von Mises mengenai teori nilai subjektif dan spontaneous order. Ia menjelaskan bahwa ekonomi Austria sejak lama menekankan bahwa nilai tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, tetapi juga oleh persepsi, preferensi, dan tindakan individu dalam pasar.
Yusman juga mendorong agar pengembangan Marketomics dilakukan melalui pendekatan akademik yang lebih formal, termasuk penyusunan formulasi teoritis yang jelas, pengembangan model ekonomi, serta pengujian empiris yang kuat sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu ekonomi dan manajemen.
Dari perspektif ekonomi syariah, Ranti Wiliasih menyoroti pentingnya dimensi moral, keadilan, dan keberlanjutan dalam sistem pasar. Menurutnya, pasar tidak dapat dipahami hanya sebagai mekanisme pertukaran berbasis harga, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keadilan, distribusi manfaat, dan tanggung jawab sosial.
Diskusi juga menyinggung berbagai tantangan ekonomi Indonesia saat ini, seperti fragmentasi pasar, ketimpangan akses ekonomi, serta risiko middle income trap. Dalam konteks tersebut, para pembicara menilai Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada stabilitas makroekonomi, tetapi juga pada kualitas penciptaan nilai dan ketahanan sistem ekonomi jangka panjang.
Selain membahas kerangka teoritis, forum ini juga menyoroti pentingnya pengembangan indikator ekonomi yang lebih mampu menangkap kondisi riil masyarakat. Para peserta sepakat bahwa ukuran keberhasilan ekonomi pada masa mendatang tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan dan efisiensi, tetapi juga melalui kualitas kesejahteraan, keberlanjutan, serta kemampuan pasar menciptakan manfaat yang inklusif.
Secara umum, Strategic Talk Series 2 FEM IPB menegaskan pentingnya memperluas cara pandang terhadap ekonomi dan pasar di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Melalui konsep Marketomics, forum ini mendorong lahirnya pendekatan ekonomi yang lebih integratif, multidisipliner, dan mampu membaca dinamika pasar secara lebih mendalam.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan kemungkinan lahirnya paradigma ekonomi baru yang tidak hanya menekankan efisiensi, tetapi juga keberlanjutan, penciptaan nilai, dan kualitas sistem ekonomi secara menyeluruh. []

