#Bebaskan PalestinaINTERNASIONAL

Komisi Penyelidik PBB: Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak dalam Genosida di Gaza

JAKARTA (Suaraislam.id) – Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Jalur Gaza. Selain itu, Israel juga melakukan kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki.

Laporan terbaru Komisi Penyelidik PBB menuduh pemerintah dan pasukan keamanan Israel secara sengaja melakukan tindakan kejam. Tindakan tersebut menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina.

Pembunuhan terhadap anak-anak Palestina dilaporkan terus berlanjut. Komisi menyatakan bahwa aksi keji ini bahkan tetap terjadi setelah gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu.

Komisi memiliki dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan Israel merupakan bagian dari strategi yang disengaja. Strategi tersebut bertujuan menghancurkan masa depan rakyat Palestina di Gaza dengan menargetkan anak-anak mereka.

Merespons hal itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan pihaknya sepenuhnya menolak laporan komisi tersebut. Mereka menyebutnya sebagai fitnah palsu dan sebuah karya propaganda yang sama keterlaluannya dengan laporan-laporan sebelumnya.

Sejak Oktober 2023, militer Israel terus melancarkan operasi militer di Gaza. Sedikitnya 73.035 orang telah tewas di Gaza, termasuk lebih dari 21.280 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas yang datanya dinilai andal oleh PBB.

Apa isi laporan Komisi Penyelidik PBB?

Laporan baru Komisi Penyelidik PBB menyebut Israel secara langsung menargetkan anak-anak Palestina di Gaza dengan menembak organ vital mereka. Serangan tersebut menggunakan senjata presisi seperti drone quadcopter dan penembak jitu.

Israel juga menggunakan senjata berdaya ledak tinggi dalam serangan terhadap bangunan perumahan, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipadati anak-anak. Laporan tersebut menambahkan bahwa Israel bertanggung jawab secara hukum karena gagal melindungi anak-anak Palestina dari sasaran tentara dan pemukim di Tepi Barat.

Anak-anak di Gaza dan Tepi Barat, terutama remaja laki-laki, dilaporkan telah ditangkap, disiksa, dan diperlakukan buruk di penjara serta fasilitas penahanan Israel. Komisi menyatakan telah mendokumentasikan insiden kekerasan seksual dan berbasis gender yang menargetkan anak-anak Palestina selama penangkapan atau di dalam tahanan.

Serangan Israel terhadap rumah sakit bersalin dan pediatrik di Gaza juga secara sistematis menghancurkan akses anak-anak terhadap perawatan yang menopang kehidupan. Hal ini merusak peluang kelangsungan hidup mereka sebagai kelompok yang dilindungi.

Laporan itu juga menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai metode perang. Pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza telah menyebabkan kekurangan gizi akut dan kronis di kalangan anak-anak Gaza serta menghilangkan kondisi dasar untuk kelangsungan hidup mereka.

Melalui serangan terhadap sekolah, pemindahan massal, dan penutupan paksa, otoritas Israel telah secara sistematis mengganggu kemampuan anak-anak untuk belajar. Tindakan ini dinilai merusak fondasi intelektual dan sosial masyarakat Palestina itu sendiri.

Pada Selasa (23/06), komisi penyelidik PBB mengatakan dalam pernyataan bersama laporan itu bahwa skala yang intens dan sifat sistematis operasi militer Israel di Gaza terus berlanjut. Akibatnya, terdapat jumlah kematian, cedera, dan trauma yang belum pernah terjadi sebelumnya pada anak-anak Palestina.

“Bapi pun setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus terbunuh dan terluka parah, dengan terus diabaikannya gencatan senjata oleh Israel serta perlindungan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak Palestina berdasarkan hukum internasional,” kata Srinivasan Muralidhar, ahli hukum asal India yang memimpin komisi tersebut.

Srinivasan Muralidhar menambahkan bahwa perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak terpisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.

“Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kapasitas rakyat Palestina untuk terus ada dan menentukan masa depan mereka,” tegasnya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button