Pelanggaran Gencatan Senjata Israel Terus Dilakukan, Warga Gaza: Hentikan Genosida!

Gaza (Suaraislam.id) – Sejumlah warga Gaza menggelar aksi protes untuk menuntut dihentikannya perang genosida yang terus dilancarkan penjajah Israel.
Para peserta aksi protes di Kota Gaza menegaskan bahwa perang genosida Israel belum berhenti. Mereka menyatakan perang itu terus berlanjut dengan alat dan metode yang berbeda, di tengah pelanggaran harian dan sistematis terhadap perjanjian gencatan senjata.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam aksi protes yang diselenggarakan oleh kekuatan nasional dan Islam pada Selasa (23/5) di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, sebelah barat Kota Gaza. Aksi itu digelar sebagai protes terhadap pelanggaran berkelanjutan Israel terhadap perjanjian yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Para peserta mengangkat spanduk yang menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tindakan mendesak guna menghentikan pelanggaran Israel. Mereka juga menuntut pertanggungjawaban pendudukan atas pelanggaran berulang tersebut, menurut Anadolu Agency.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa “perang genosida di Jalur Gaza belum berhenti, tetapi terus berlanjut dalam berbagai bentuk.” Ia mencatat bahwa pendudukan Israel terus melakukan pelanggaran dengan membatasi masuknya bantuan, menutup perbatasan, menggeser “garis kuning” ke arah barat, dan memberlakukan hukuman kolektif.
Ia menambahkan, praktik-praktik tersebut menempatkan para mediator dan negara-negara penjamin pada tanggung jawab politik, moral, dan hukum untuk menekan Israel agar mematuhi perjanjian.
Qassem menjelaskan, konsultasi Palestina dengan para mediator masih berlangsung terkait mekanisme penerapan fase kedua perjanjian. Fase tersebut mencakup pengaturan mengenai penempatan pasukan internasional dan pemerintahan Palestina untuk Jalur Gaza. Ia menegaskan bahwa faksi-faksi Palestina menangani solusi yang diusulkan secara positif dan bertanggung jawab.
Ia juga menegaskan kesiapan Hamas untuk bekerja sama dengan pengaturan apa pun yang menjamin penghentian genosida dan dimulainya proses rekonstruksi di Jalur Gaza. Qassem juga menekankan kesiapan gerakan tersebut untuk menyerahkan administrasi Jalur Gaza, termasuk aspek sipil dan keamanannya.
Di sisi lain, pemimpin Jihad Islam, Daoud Shehab, menyatakan pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa angka-angka korban mencerminkan kelanjutan perang dalam berbagai bentuk meskipun perjanjian telah diterapkan.
Shehab menunjukkan bahwa lebih dari seribu warga Palestina telah tewas dan hampir tiga ribu lainnya terluka sejak perjanjian tersebut berlaku. Ia memperingatkan bahwa kelanjutan pelanggaran ini mengancam peluang untuk mengonsolidasikan gencatan senjata dan dapat mengembalikan situasi ke siklus eskalasi. Karena itu, ia menilai diperlukan intervensi internasional yang mendesak dan efektif.
Sementara itu, penulis dan analis politik Tayseer Muhaysen mengatakan bahwa Israel telah melakukan ribuan pelanggaran sejak perjanjian tersebut berlaku. Ia menjelaskan, tindakan Israel mencakup pembatasan pergerakan penduduk di Jalur Gaza dan perluasan “garis kuning” ke arah barat. Akibatnya, ribuan keluarga mengungsi ke wilayah yang lebih padat penduduk.
Ia menambahkan, pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan telah memperparah krisis kemanusiaan dan menyebabkan kekurangan kebutuhan pokok secara serius. Kondisi itu mengancam nyawa penduduk dan memperdalam penderitaan mereka sehari-hari.
Menurut sumber-sumber Palestina, pelanggaran Israel telah mengakibatkan 1.021 orang tewas dan 3.260 orang terluka hingga Senin. Sumber-sumber tersebut mengindikasikan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza belum menunjukkan perbaikan nyata karena pendudukan Israel gagal memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian. Komitmen itu termasuk membuka perbatasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, bantuan medis, serta bahan-bahan penampungan dalam jumlah yang telah disepakati.
Perjanjian gencatan senjata tersebut dicapai setelah dua tahun perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Perang itu mengakibatkan lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 173.000 orang terluka. Selain itu, kerusakan luas juga menimpa sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza.
sumber: infopalestina






