Filisida Maternal: Luka Tersembunyi Ibu, Korban Sakitnya Sistem
Namun penghormatan itu tidak berhenti di tataran simbolik. Negara dalam sistem Islam wajib memastikan kaum laki-laki—para ayah dan suami—mampu mencari nafkah dengan layak. Negara juga berkewajiban menyediakan pendidikan, keamanan, dan kesehatan gratis.
demikian, beban ibu menjadi ringan, dan bisa menjalankan perannya tanpa dihantui oleh kekhawatiran finansial. Ketika sistem ini berfungsi, naluri keibuan dapat berkembang dengan sempurna, dan seorang ibu dapat menjalankan perannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Sistem Islam juga memberi ruang aman agar naluri keibuan bisa tumbuh sempurna. Dengan perlindungan yang menyeluruh, baik itu keimanan, sosial, ekonomi, dan politik, ibu dapat melaksanakan perannya dengan tenang. Dengan begitu, seorang ibu akan mampu menjadi penjaga generasi bagi kehidupan di masa depan. Karena ia sadar, fitrahnya adalah untuk menciptakan generasi yang beriman dan bertakwa, tidak hanya di dunia, melainkan di akhirat. Surga adalah ganjarannya.
Kembali pada Sistem yang Sehat
Kasus filisida maternal adalah alarm keras bagi kita. Ini adalah cermin dari sebuah sistem kehidupan yang sakit. Tragedi ini menunjukkan bahwa tanpa dukungan yang memadai, seorang ibu—yang seharusnya menjadi penjaga kehidupan, bisa menjadi begitu rapuh hingga ia tak mampu lagi menahan beban.
Sistem Islam menawarkan jalan keluar. Dengan menjamin nafkah, kesehatan, dan pendidikan, juga dengan menempatkan ibu sebagai pihak yang dimuliakan, bukan dibebani.
Oleh karena itu, Negara wajib hadir melindungi keluarga, bukan sekadar menyalahkan individu atau membiarkan keluarga berjalan masing-masing, tanpa peduli terhadap masalah yang mengintai.
Kesejahteraan ibu dan generasi berada di tangan negara dengan sistem yang sehat, yaitu yang menerapkan sistem Islam kaffah dalam semua aspek kehidupan. Wallahu’alam bishawab. []
Ariefdhianty Vibie, Pegiat Literasi.






