INTERNASIONAL

Gaza ‘Hancur Jadi Debu’

Kehancuran Gaza menjadi kontras tajam dengan janji global untuk “tidak meninggalkan siapa pun” yang disampaikan dalam KTT Dunia Kedua untuk Pembangunan Sosial yang baru saja berakhir di Doha.

Namun, menurut Rohan Talbot, direktur advokasi Medical Aid for Palestinians (MAP) yang berbasis di Inggris, deklarasi global seperti WSSD “tidak berarti apa-apa” di tengah kenyataan kelam Gaza.

“Meski ada gencatan senjata, sektor kesehatan masih dalam kondisi bencana. Peralatan medis dan obat-obatan sangat langka, ratusan tenaga medis terbunuh atau masih ditahan,” katanya kepada Al Jazeera.

Talbot menegaskan: “Pembangunan tidak mungkin terjadi selama rakyat Palestina masih dirampas hak dasarnya atas keselamatan, kebebasan bergerak, dan martabat.”

Senada, Aziz Hafiz, pimpinan Humanity First UK, mengatakan bahwa “tak ada deklarasi seindah apa pun yang bisa menggantikan hak fundamental atas kebebasan dan keamanan.”

“Pembangunan tidak dapat tumbuh terpisah dari keadilan dan perdamaian,” ujarnya. “Namun, itu tidak berarti kita harus menunggu perdamaian untuk bertindak. Setiap program pelatihan kerja, rehabilitasi sekolah, atau dukungan psikososial adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan.”

Talbot dari MAP menambahkan, “Untuk pembangunan yang benar-benar berarti, komunitas internasional harus menegakkan hukum kemanusiaan internasional. Harus ada tekanan nyata kepada pemerintah Israel, sebagai kekuatan pendudukan, untuk menegakkan gencatan senjata permanen, membuka perlintasan, dan mengizinkan masuknya bantuan serta pasokan medis tanpa hambatan.”

‘Membangun kembali terasa seperti mimpi’

Setelah dua tahun serangan dan kehancuran tanpa henti, Shaheen mengatakan bahwa yang paling diinginkan rakyat Gaza adalah “membangun kembali rumah mereka dengan tangan sendiri dan mendapatkan kembali sedikit kehidupan normal.”

“Hidup di kamp pengungsian adalah salah satu hal tersulit yang dialami orang-orang saat ini,” katanya.

“Kebanyakan tidak punya tempat berlindung yang layak—hanya tenda tipis yang hampir roboh diterpa angin. Tak ada ruang, tak ada privasi, tak ada kenyamanan. Saat hujan turun atau matahari membakar, tak ada tempat untuk berlindung.”

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button