Haul ke-4 KH Husni Thamrin, Menjaga Api Dakwah yang Tak Pernah Padam
Babah Chaerul mencontohkan sejarah wafatnya Rasulullah SAW. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Islam bukan melemah, justru semakin meluas dan berkembang.
“Begitu pula kita. Kepergian guru bukan akhir dari perjuangan. Itu adalah panggilan bagi generasi penerus untuk melanjutkan dan memperluas dakwah,” ujarnya.
Sebagai salah satu yang dituakan di majelis tersebut, Babah Chaerul mengajak seluruh jamaah untuk menjaga hati, keikhlasan, dan persatuan.
“Kalau ada masalah, itu biasa. Namanya juga hidup di dunia. Jangan sampai masalah membuat kita jatuh. Justru dengan ujian kita harus semakin kuat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa hidup penuh dengan ujian—baik berupa kesulitan maupun kenikmatan. Semua itu adalah cara Allah menguji kualitas iman hamba-Nya.
Haul ke-4 KH Muhammad Husni Thamrin pun menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat barisan, dan meneguhkan komitmen melanjutkan dakwah. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, para murid dan jamaah diingatkan agar tidak sekadar mengenang, tetapi juga semangat melanjutkan perjuangan Abi Thamrin.
Empat tahun kepergian ulama bukanlah jeda dalam perjuangan. Sebaliknya, ia menjadi penanda bahwa warisan ilmu dan semangat dakwah harus terus hidup—dalam majelis-majelis ilmu, dalam akhlak para murid, dan dalam pengabdian kepada umat.
Di momen haul ini, doa-doa dipanjatkan, untuk Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta umatnya. Nama KH Muhammad Husni Thamrin disebut dengan penuh cinta. Dan di antara lantunan doa, terselip tekad yang sama: menjaga api perjuangan agar tetap menyala, dari generasi ke generasi berikutnya. []






