NASIONAL

Haul ke-4 KH Husni Thamrin, Menjaga Api Dakwah yang Tak Pernah Padam

Bogor (SI Online) – Suasana khidmat menyelimuti Majelis Al Ihya, Kota Bogor saat ribuan jamaah menghadiri haul ke-4 ulama kharismatik asal Bogor, KH Muhammad Husni Thamrin pada Ahad (15/2/2026).

Empat tahun telah berlalu sejak kepergian ulama yang akrab disapa Abi Thamrin, namun jejak dakwah dan keteladanannya tetap hidup di tengah umat.

Haul kali ini bukan sekadar mengenang, tetapi menjadi ruang muhasabah, merajut kembali semangat perjuangan, serta memperkuat persatuan di antara para murid dan jamaah.

Baca juga: Sejumlah Ulama dan Ribuan Pelayat Hadiri Pemakaman KH Husni Thamrin

Pimpinan Majelis Al Ihya KH Chaerul Saleh dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin menghadirkan hati dan meluruskan niat di momen haul tersebut.

“Hari ini kita hadirkan hati, ikhlaskan niat dengan segala perasaan yang mendalam. Orang tua kita, guru kita, Abina KH Muhammad Husni Thamrin, dalam hidupnya menghabiskan perasaan, pikiran, waktu, tenaga, dan hartanya untuk melanjutkan dakwah Kanjeng Rasulullah SAW,” tuturnya.

Kiai yang akrab disapa Babah Chaerul itu menegaskan bahwa almarhum tidak mewariskan harta benda, melainkan ilmu dan keteladanan—sebagaimana warisan para nabi dan ulama terdahulu.

“Sebagaimana para nabi dan rasul, yang diwariskan adalah ilmu. Itulah yang diwariskan oleh orang tua kita tercinta. Berkah beliau, pada haul yang keempat ini kita bisa berkumpul bersama,” ujarnya.

Babah Chaerul juga menyampaikan rasa syukur atas kehadiran sejumlah ulama dan tokoh yang turut membersamai haul tersebut, di antaranya Ustaz Umar (Pimpinan Majelis At-Taqwa Cianjur), Dr. Ilham Khaidir, Ustaz Subhan, Abah Sobar, Ustaz Abdul Qadir, Ustaz Hisyam, Ustaz Dudi, Ustaz Budi Abdul Karim, KH Sam’an, Ustaz Bahruddin, serta Habib Bagir selaku Ketua Rabithah Alawiyah Jawa Barat. Dalam acara tersebut, hadir juga menantu Habib Rizieq Syihab yaitu Dr Habib Muhammad Hanif Alatas, yang memberikan ceramah.

Baca juga: Abi Thamrin Cinta Habib Rizieq: Saya Ingin Berjuang bersama Cucu Rasulullah

Dalam refleksinya, Babah Chaerul mengingatkan bahwa setiap yang hidup pasti akan wafat. Ia mengutip firman Allah, kullu nafsin dzaiqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

“Kalau dilihat waktu, pas hari ini empat tahun lalu beliau wafat. Tapi waktu juga mengingatkan kita bahwa yang ditinggalkan harus terus melanjutkan perjuangan,” katanya.

Ia menyebut wafatnya seorang ulama sebagai “dicabutnya salah satu paku dunia” oleh Allah SWT. Kematian seorang ulama, lanjutnya, bisa menjadi ujian besar bagi umat—apakah akan tumbang atau justru bangkit menjadi lebih kuat.

“Jangan sampai kita ditinggalkan beliau dalam keadaan sedih, lalu hilang semangat. Justru kita harus lebih hebat, lebih kuat, lebih istiqamah,” tegasnya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button