OPINI

Israel, Turki, dan Penataan Ulang Tatanan Regional Baru

Di Suriah, Israel tidak hanya berseberangan dengan Turki, tetapi juga dengan konsensus regional dan internasional.

Kendati demikian, ini bukan sekadar perselisihan visi antara Turki dan Israel. Israel justru berseberangan dengan konsensus regional dan internasional terkait Suriah. AS, Inggris, Eropa, dan negara-negara kawasan semuanya mendukung pemerintahan yang tersentralisasi dan stabil di Damaskus. Secara ironis, satu-satunya negara kawasan lain yang mungkin menginginkan Suriah yang lemah atau gagal adalah Iran.

Seperti negara berdaulat lainnya, Suriah akan memiliki angkatan bersenjata. Jika Israel percaya bahwa satu-satunya cara untuk menjamin keamanannya adalah dengan menjaga negara tetangga atau kawasan tetap lemah, terpecah belah, dan tanpa kemampuan militer, hal itu merupakan resep menuju perang abadi serta isolasi regional dan internasional.

Pelemahan negara Suriah dan kegagalan proses transisinya akan membuka jalan bagi aktor non-negara serta kelompok radikalisme. Hal ini akan berdampak buruk bagi seluruh kawasan, termasuk Israel sendiri. Sesungguhnya, negara tetangga seperti Lebanon harus menjadi pelajaran berharga. Pendudukan Israel dan lemahnya negara Lebanon telah melahirkan serta memperkuat posisi Hizbullah.

Timur Tengah Pasca-Abrahamic

Gagasan Israel dan Turki mengenai tatanan regional juga saling bertabrakan. Pakta Mekkah yang baru-baru ini mempertemukan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan tidak serta-merta bersifat anti-Israel. Namun, pakta ini mewakili pergeseran regional yang menandai kegagalan tatanan yang diimpikan oleh Abraham Accords, atau inisiatif serupa seperti Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa (IMEC) serta kemitraan strategis I2U2 antara India, Israel, Uni Emirat Arab, dan AS.

Visi Abrahamic tentang tatanan regional didasarkan pada normalisasi dan kerja sama Arab-Israel di bawah payung keamanan AS. Penahanan ketat (hard containment) terhadap Iran, penahanan halus (soft containment) terhadap Turki, serta marjinalisasi isu Palestina juga menjadi bagian dari visi tersebut.

Secara inheren, visi Abrahamic ini lebih berkaitan dengan kepentingan Israel dan proses normalisasi regionalnya dibandingkan dengan kebutuhan serta prioritas negara-negara Arab.

Namun, melalui kebijakan agresif dan revisionisnya, Israel justru memperdalam prospek isolasi regionalnya sendiri, meningkatkan biaya normalisasi, serta menghancurkan visi tatanan regional yang berpusat pada Israel atau Abrahamic tersebut.

Sikap revisionis Israel tidak hanya merenggangkan hubungannya dengan negara-negara utama di kawasan, tetapi juga menyingkap jurang pemisah antara Israel dan AS dalam hal penataan ulang tatanan regional.

Meskipun Israel menentang Pakta Mekkah, Trump justru menyambutnya. Trump kemungkinan melihat pakta tersebut sejalan dengan strateginya mengenai pembagian dan pengalihan beban bersama sekutu regional, serta menganggapnya memiliki legitimasi dan penerimaan yang lebih kuat di kawasan. Sikap AS ini juga dapat mencerminkan rekalibrasi atas visi regional Washington.

Selama dekade terakhir, AS telah berinvestasi besar-besaran untuk menciptakan tatanan regional yang berlandaskan hubungan antara Israel dan negara-negara Teluk Arab. Namun, proyek tersebut pada hakikatnya merupakan tatanan regional yang berpusat pada kepentingan Israel semata.

Visi ini tidak lagi dapat dipertahankan, dan tidak ada pihak yang lebih bertanggung jawab atas kejatuhannya selain Israel sendiri.[]

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button