Jika Iran Bergabung dalam Pakta Makkah
Mencermati dinamika ini, terdapat faktor kritis yang sering terlewatkan, yakni adanya saling ketergantungan (interdependensi) ekonomi Iran terhadap Pakistan dan Turki, serta kebutuhan Saudi akan stabilitas untuk Visi 2030-nya. Interdependensi ini menciptakan dorongan struktural bagi semua pihak untuk membuat pakta ini berhasil, setidaknya di atas kertas.
Tapi, kepentingan nasional yang saling bertentangan—terutama dalam isu Yaman, Suriah, dan pengaruh di Teluk—menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Pakistan, dengan kapasitas mediasinya, mungkin menjadi perekat utama yang mencegah keretakan, mengingat Jenderal Asim Munir berada di Teheran saat ini untuk membahas isu ini secara langsung.
Pada akhirnya, apa pun yang terjadi, kita sedang menyaksikan perubahan paradigmatik. Timur Tengah tidak akan pernah kembali ke tatanan lama yang didominasi oleh kehadiran militer AS dan dikotomi proksi Iran-Saudi.
Jika Iran bergabung, Pakta Makkah akan menjadi arsitektur keamanan baru yang mendefinisikan ulang aturan main di kawasan.[]






