RUANG MUSLIMAH

Kelelahan Mulia Sang Ibu

Tak lain dari itu, di era digital yang anak-anak lebih asyik berkelana di dunia maya. Kenyataan uang yang ibu berikan untuk membeli paket-paket internet justru akan membuat si anak jauh dari cinta dan kepedulian keluarga.

Ketika si ibu lelah, kebanyakan anak akan lebih memilih untuk memijit-mijit tombol gadgetnya daripada memijat punggung dan tangan ibundanya. Ketika sang ibu pun telah berteriak meminta tolong untuk mengangkat jemuran yang mendadak terserang runtuhan air hujan. Si anak merasa tidak mendengar teriakan pertolongan itu karena matanya lebih fokus pada HP yang dipegangnya.

Demikianlah, hakikat kehidupan sistem sekularisme kapitalisme. Kebahagiaan materialistik dunia yang dikejar. Kasih sayang ibu diganti dengan gaji bekerja. Jiwa anak yang berbakti tidak ada. Hasilnya moralitas adab kehidupan semakin rendah dan hina.

Oleh karena itu, haruslah para ibu kembali pada peran sejatinya; mengelola urusan rumah tangga, merawat, dan mendidik anak-anak mereka. Bentuklah anak-anak menjadi sosok yang beriman dan bertakwa. Sebab anak adalah anugerah ladang pahala yang tidak akan membuat orang tua lelah disiksa dalam neraka.

Bergerak dan menyatulah para ibu di luar rumah dalam ikatan ukhuwah islamiyah untuk melindungi para buah hatinya. Sebarkanlah kebenaran Islam agar masyarakat sadar dan tidak saling mempengaruhi pada keburukan.

Misalnya, ketika seorang ibu kesulitan mengingatkan anaknya yang sudah terlalu mencadu game. Tetangganya yang juga seorang ibu mungkin dapat memberi saran penyelesaiannya. Malahan, sang tetangga tersebut pun dapat pula menyuruh anak kandungnya sendiri sebagai pintu pembuka dakwah bagi sesama golongan seusianya.

Tak luput dari itu, para ibu juga perlu untuk bersatu dan maju berdakwah politis agar sistem kehidupan sekularisme kapitalisme segera dibubarkan dalam negara. Walaupun seringkali tampak lebih menakutkan dan melelahkan. Akan tetapi, dakwah politis tetaplah menjadi salah satu pilar utama agar status kemuliaan ibu stabil dan kualitas si anak tidak labil.

Serupa dengan kisah inspiratif nyata keberanian sang ibu nabi Musa di masa lalu. Ketika Firaun menetapkan aturan hukum membunuh bayi lelaki, ibu nabi Musa tetap berani melanggarnya. Dia menghanyutkan nabi Musa karena dia pun yakin Allah Yang Maha kuasa lebih berkuasa daripada Firaun.

Tak ayal, Allah Swt. pun menyelamatkan nabi Musa dengan perantara istri Firaun sendiri. Kemudian mengangkatnya sebagai nabi yang mampu mengalahkan Firaun beserta para pengikutnya.

Dengan demikian bukankah para ibu politis pemberani di masa sekarang juga dapat berjasa besar? Sebab ketakutan dan ketaatan mereka hanyalah pada Allah semata. Mereka berani berdiri menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang bersalah.

Buah hati yang dididiknya pun akan bisa diangkat menjadi keturunan pahlawan oleh Allah Swt. Sehingga mereka pun dapat mengalirkan pahala bagi para ibu yang telah berjasa kepada mereka.

Akhirnya, dapat diketahui bahwa kelelahan masa hamil, melahirkan, dan menyusui adalah takdir yang Allah Swt muliakan bagi kaum ibu. Sedangkan kelelahan mendidik anak adalah lanjutan kemuliaan yang harus ibu sendiri usahakan melalui dakwah pada masyarakat dan negara.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button