Kelelahan Mulia Sang Ibu
Peran seorang wanita sebagai ibu memang melelahkan. Namun, sadarkah kita bahwa semua kelelahan itu sangatlah mulia di hadapan Allah Swt?
Di masa mengandung, bobot calon bayi sudah ia panggul dalam perutnya rata-rata selama sembilan bulan. Tendangan-tendangan si calon bayi itu juga seringkali membuat sang ibu terkejut. Namun, ibu tetap sabar dan mengusap-usapnya tanpa marah.
Ketika proses melahirkannya pun tiba, sang ibu tidak hanya lelah. Ia sudah harus merasakan sakit luar biasa hingga kadang dapat melayangkan nyawa.
Ditambah lagi, dalam dua tahun masa menyusui, asupan makanannya harus selalu dibagi dengan si bayi. Bahkan jeritan tangis minta disusui tidak hanya tiga kali sehari tetapi berulang-ulang kali.
Tak heran Allah pun telah menyuruh umat manusia untuk senantiasa tidak durhaka pada ibu. Sebagaimana firmanNya dalam surat Luqman 14:
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنࣲ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.
Selanjutnya, di tengah kondisi kehidupan yang semakin menyulitkan. Banyak ibu menjadi sibuk bekerja di luar rumah. Niat baik menjadi asisten suami untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga memang tampak bijaksana. Harapan agar anak-anaknya tidak menderita juga sangat luhur. Namun, apakah hal-hal itu akan membuat derajat mulianya semakin meningkat?
Faktanya, delapan jam kerja telah membuatnya juga lelah ketika pulang. Akibatnya, ibu agak berat untuk tersenyum hangat pada para buah hatinya yang tercinta. Lalu, ibu akan mudah marah, si anak pun menjadi merasa tertekan dan benci dalam masa pertumbuhannya.
Apabila seorang ibu tidak bisa menjalankan tugas utamanya sebagai seorang pengurus rumah tangga dan pendidik anaknya, maka niat dan harapan baiknya tidak akan berguna. Sebab Allah Swt. pun telah mengingatkan:
يَآأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)






