NUIM HIDAYAT

Kemakmuran Indonesia dan Dunia: Mungkinkah?

Memang kerakusan atau ketamakan penyakit laten di Indonesia dan dunia. Selama negara dan dunia dipimpin orang-orang yang rakus harta, maka jangan harap ada kemakmuran di dunia. Yang kaya terus kaya, dan yang miskin jumlahnya terus membengkak.

Selain akhlak kerakusan yang dimiliki para pemimpin dunia, sistem ekonomi dunia pun rusak. Selama sistemnya menggunakan riba dan pajak, dunia tidak akan makmur. Ekonomi, saham, mata uang dan lain-lain dimainkan negara-negara besar.

Untuk mengatasi kerusakan Indonesia dan dunia ini, maka Islam harus tampil. Sistem ekonomi Al-Qur’an harus diterapkan.

Pertama-tama, Al-Qur’an menyeru kepada para pemimpin untuk tidak rakus. Lihatlah berapa banyak ayat Al-Qur’an yang menyeru setelah shalat harus infak. Maknanya setelah kamu perbaiki hubungan kamu dengan Allah, perbaiki hubungan kamu dengan manusia sekelilingmu. Bagaimana kamu bisa mengeruk uang rakyat 150 juta sebulan, sedangkan 60 juta rakyat di sekitarmu masih miskin. Rakyat di sekitarmu untuk mendapatkan dua juta sebulan saja susahnya bukan main.

Makanya dari sini presiden atau orang pertama di negeri ini harus menghilangkan sifat rakus dulu. Presiden harus zuhud. Presiden misalnya menetapkan penghasilan paling tinggi di negeri ini 30 juta sebulan. Bila ditetapkan gaji maksimal pejabat negara segitu, saya yakin triliunan uang negara bisa dihemat. Bila presidennya rakus, bawahannya, menteri, DPR, para jenderal semua ikut rakus. Bila presidennya zuhud. hidup sederhana, para pejabat lain juga insya Allah akan mengikuti.

Korupsi harus ditindak tegas. Tidak peduli yang korupsi presiden, Menteri, polisi dan lainnya. Kini penindakan korupsi tebang pilih. KPK tidak berani menindak korupsi yang dilakukan polisi dan presiden.

Korupsi tidak cukup dipenjara. Korupsi harus dipotong tangan. Lihatlah bagaimana para koruptor tidak kapok dengan hukum penjara. Hukum penjara bisa dipermainkan. Bila anda punya uang, mungkin tiap minggu bisa keluar menginap di hotel. Kongkalikong dengan petugas penjara sering terjadi di negeri ini.

Coba kalau hukum potong diperlakukan. Satu saja yang dipotongtangannya, kita yakin orang akan takut dipotongtangannya. Pejabat akan berfikir seribu kali, korupsi 100 milyar atau kehilangan tangan. Kehilangan tangan maknanya cacat seumur hidup dan tentu orang akan berfikir seribu kali untuk menjalani kehidupan terhina selama, hidupnya: ‘itu mantan koruptor, lihat tuh hilang tangannya’.

Itulah hebatnya hukum Al-Qur’an, mendidik manusia bersikap dermawan dan memberikan efek jera bagi para penjahat.

Bila sistem ekonomi internasional dasarnya adalah riba dan pajak, maka sistem ekonomi Islam dasarnya adalah zakat, infak dan wakaf. Apa bedanya? Riba menjadikan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Bayangkan orang miskin pinjam, dikenakan bunga lagi, ini kan namanya memiskinkan orang miskin. Orang kaya trilyunan uangnya. Cukup uangnya nangkring di bank, ia pesta pora tiap hari dengan teman-temannya, karena menerima milyaran dari bunga bank. Bunga bank yang dibagikan kepada orang kaya itu, adalah hasil dari perasan bunga bank kembalian orang miskin.

Pajak juga jadi permainan di negeri ini. Sistem pajak menjadikan banyak perusahaan tidak jujur. Petugas atau mafia pajak bisa kongkalikong dengan perusahaan yang harusnya bayar satu miliar hanya bayar satu juta. Pajak kini hampir dikenakan di semua sektor kehidupan, sehingga masyarakat makin berat beban hidupnya.

Bagaimana dengan zakat dan infak? Zakat ada unsur ibadahnya. Orang akan ikhlash mengeluarkannya. Jarang orang atau perusahaan yang menipu penghitungan zakat. Bila zakat atau infak dikeluarkan dengan ikhlash, maka pajak dikeluarkan dengan terpaksa. Itulah bedanya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button