IBRAH

Keteladanan: Dakwah Paling Nyata

Bahkan, keberhasilan dakwah beliau bukan hanya karena kefasihan berbicara, melainkan karena keluhuran akhlak dan keteladanan yang luar biasa.

Ketika Aisyah ra. ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., beliau menjawab bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.

Artinya, seluruh perilaku beliau merupakan penerapan nyata dari ajaran luhur yang beliau sampaikan kepada umatnya.

Al-Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menegaskan bahwa uswah hasanah tercorak secara nyata dalam setiap anggota badan Rasulullah saw.

(وقوله تعالى: (فِي رَسُولِ اللَّهِ) [الأحزاب: ٢١] كأن الأُسْوة الحسنة مكانها كل رسول الله، فهو ﷺ ظرف للأُسْوة الحسنة في كل عضو فيه ﷺ، ففي لسانه أُسْوة حسنة، وفي عينه أُسْوة حسنة، وفي يده أُسْوة حسنة… إلخ، كله ﷺ أُسْوة حسنة.)

“Seakan-akan uswah hasanah (teladan yang baik) adalah sikap yang tercermin pada setiap utusan Allah Swt.”

“Dalam hal ini, Rasulullah saw. adalah wadah dari uswah hasanah tersebut yang tercermin pada setiap anggota tubuh beliau.”

“Pada lisan, mata, tangan, serta seluruh anggota badan Rasulullah saw. terdapat uswah hasanah.” (Tafsir Asy-Sya’rawi, Hlm. 11980, Juz 19)

Inilah esensi mendasar dari makna uswatun hasanah.

Dakwah yang paling kuat bukanlah dakwah yang paling keras suaranya, melainkan dakwah yang paling nyata keteladanannya.

Sebab, manusia pada hakikatnya akan melihat contoh tindakan terlebih dahulu sebelum mereka mendengarkan nasihat.

Anak-anak cenderung lebih meniru perilaku orang tuanya daripada sekadar mendengarkan nasihat lisan mereka.

Santri pun lebih memperhatikan kualitas akhlak gurunya daripada sekadar mendengarkan isi ceramahnya.

Begitu pula masyarakat luas yang lebih memercayai tokoh publik dengan tindakan yang selaras dengan ucapannya.

Sayangnya, fenomena yang terjadi pada zaman sekarang justru sering kali menunjukkan kondisi sebaliknya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button