Keteladanan: Dakwah Paling Nyata
Orang mungkin dapat melupakan nasihat yang pernah mereka dengar, tetapi mereka sulit melupakan kebaikan akhlak yang mereka rasakan.
Langkah ini bukan berarti mau’izhah hasanah atau nasihat lisan tidak lagi memiliki arti penting dalam kehidupan.
Nasihat lisan tetap sangat dibutuhkan sebagai tuntunan normatif di dalam koridor agama.
Akan tetapi, nasihat tersebut akan jauh lebih kuat dan efektif apabila didukung penuh oleh keteladanan yang nyata.
Ucapan lisan dan tindakan nyata harus selalu berjalan beriringan secara harmonis tanpa ada pemisahan.
Ketika keduanya bersatu, pesan dakwah akan menyentuh lubuk hati manusia dengan jauh lebih dalam.
Rasulullah saw. tidak hanya memerintahkan ibadah salat, tetapi beliau juga menjadi orang yang paling menjaga kualitas salatnya.
Beliau tidak hanya mengajarkan sifat sabar, melainkan juga menjadi pribadi yang paling sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Beliau tidak hanya berbicara tentang kasih sayang, melainkan seluruh hidup beliau dipenuhi dengan manifestasi kasih sayang kepada sesama.
Karena alasan itulah, para sahabat begitu mencintai dan memercayai setiap perkataan yang keluar dari lisan beliau.
Maka, di tengah zaman yang penuh dengan pencitraan ini, umat Islam perlu kembali memahami pentingnya uswatun hasanah.
Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai menasihati orang lain, tetapi gagal memperbaiki diri sendiri.
Jangan sampai lisan kita sibuk menyeru kepada kebaikan, sementara perilaku nyata kita justru menjauhkan manusia dari keluhuran agama.
Pada akhirnya, keteladanan adalah bentuk dakwah yang paling tulus dan paling berpengaruh bagi umat manusia.
Sebab, manusia mungkin meragukan ucapan lisan, tetapi mereka sulit meragukan ketulusan akhlak yang nyata.
Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa bahasa perilaku jauh lebih fasih daripada bahasa ucapan.[]
Ahmad Dhiyaul Lamik, Mahasantri Ma’had Aly Darussalam Semester 4.






