Warga Palestina Gelar Aksi Protes, Tuntut Informasi tentang Nasib Orang Hilang
GAZA CITY (Suaraislam.id)— Puluhan warga Palestina menggelar aksi protes di Kota Gaza pada Ahad (30/8) untuk menuntut informasi terkait nasib sanak keluarga yang hilang sejak perang genosida pasca 7 Oktober 2023.
Aksi yang diselenggarakan oleh Jaringan Organisasi Nonpemerintah Palestina tersebut berlangsung di luar markas besar Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Gaza City bagian barat. Unjuk rasa ini digelar bertepatan dengan Hari Korban Penghilangan Paksa Internasional.
Para peserta membawa foto anggota keluarga yang hilang serta membentangkan spanduk bertuliskan “The Missing: Stories Awaiting the Truth” (Orang-Orang Hilang: Kisah-Kisah yang Menanti Kebenaran).
Direktur Jaringan Organisasi Nonpemerintah Palestina, Mohammed Saleh, menegaskan bahwa isu orang hilang bukan sekadar angka statistik. Masalah ini menyangkut nama, impian, dan kepastian bagi keluarga yang terus mencari keadilan.
Saleh menyebutkan bahwa pihaknya telah mendokumentasikan lebih dari 11.200 orang hilang yang terdaftar. Namun, jumlah sebenarnya di lapangan diyakini jauh lebih tinggi.
Ia menyerukan pembentukan mekanisme independen dan transparan untuk pencarian korban, pembentukan basis data nasional terpadu, serta dukungan laboratorium forensik khusus guna mengidentifikasi sisa-sisa jenazah.
Secara terpisah, kelompok-kelompok perlawanan Palestina mengecam keras kunjungan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, ke blok wanita Penjara Damon pada Ahad (30/8). Dalam kunjungan tersebut, Ben-Gvir merekam video para tahanan perempuan Palestina dan mengunggahnya ke akun media sosial X miliknya.
Klub Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners’ Club) menegaskan bahwa aksi perekaman tersebut mencerminkan kebijakan sistematis Israel yang menargetkan tahanan Palestina. Lembaga swadaya masyarakat ini menilai penderitaan para tahanan telah dijadikan alat propaganda politik.
Dalam video berdurasi 1 menit 44 detik itu, seorang tahanan perempuan menceritakan kondisi miris di dalam penjara. Ia mengungkapkan bahwa para tahanan tidak mandi selama tiga hari, tidak mendapat perawatan medis, serta dipaksa mengenakan pakaian kotor.
Ben-Gvir merespons kesaksian tersebut melalui seorang penerjemah dengan nada mengancam, “Kondisi baik yang dulu ada di penjara kini sudah berakhir.”
Menanggapi hal itu, Gerakan Jihad Islam menegaskan bahwa pemerintah Israel memikul tanggung jawab penuh atas keselamatan para tahanan. Mereka mendesak lembaga-lembaga internasional segera bertindak untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia tersebut.
Sementara itu, Hamas memperingatkan otoritas pendudukan agar tidak menjadikan penjara sebagai arena penyiksaan, penghinaan, dan pembunuhan. Hamas menyerukan tindakan nyata dari masyarakat internasional untuk melindungi para tahanan Palestina.[]
Sumber: Xinhua





