RESONANSI

Konsep Diri Ibadurrahman sebagai Jalan Pengembangan Potensi Diri

Pertama: Terbentuk melalui pengalaman hidup, seperti saat seseorang mengalami dan merasakan sesuatu, juga saat melakukan sesuatu atau mengambil peran tertentu. Sehingga dapat dibaca bahwa konsep diri seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang dialami dan dirasakannya, juga apa yang menjadi peran dalam kehidupannya.

Kedua: Juga terbentuk melalui interaksi dengan lingkungan, seperti saat seseorang melihat dan mendengar sesuatu. Hal ini menjadikan sebuah kesimpulan bahwa konsep diri seseorang sesuai dengan apa yang sering dilihat dan didengarnya.

Ketiga: Sangat dipengaruhi oleh reaksi dan respon orang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep diri berdasar pada persepsi seseorang tentang persepsi orang lain terhadap dirinya, yang menyebabkan konsep diri bisa menjadi positif atau negatif.

Perkembangan standar suatu konsep diri ini memerlukan waktu yang relatif lama dikarenakan berkembang tanpa desain dan tanpa perencanaan sebelumnya. Sebagaimana debit air yang mengalir bisa dipercepat dengan bantuan alat, seperti itu pula pembentukkan dan perubahan konsep diri seseorang bisa dipercepat perkembangannya dengan desain dan perencanaan tertentu.

Desain dan perencanaan konsep diri ini sebenarnya sudah Allah SWT sampaikan sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an. Allah SWT sampaikan dalam surat Adz-Dzaariyaat: 56 bahwa tidaklah Allah SWT menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menghamba kepadaNya. Lebih jauh ayat ini menegaskan bahwa semua hal tentang penciptaan jin dan manusia, yang termakna dari lafazh “maa”, adalah semua jin dan manusia tanpa terkecuali. Pemilihan kata al-insa bukan an-naas yang terbatas, juga memaknakan hal tersebut. Kata “kholaqtu” yang berarti menciptakan, bermakna bahwa Allah SWT menciptakan dari tidak ada menjadi ada.

Dan huruf “lam” pada kata “liya’buduun” adalah penegasan tujuan spesifik dari penciptaan tersebut, yaitu untuk menjadi “al-‘abd” yang berarti hamba. Juga kata ”liya’buduun” merupakan kata kerja yang bermakna “menghamba”. Sehingga jelas desain konsep diri seluruh manusia adalah hamba-Nya, yang tujuan penciptaan nya adalah menghamba kepadaNya Yang Rohmaan yang telah menciptakan dari tidak ada menjadi ada.

Konsep diri sebagai hamba Ar-Rahman ini, benar-benar dapat menjadi sesuatu yang mempercepat proses pembentukkan pola pikir dan pola keyakinan, sebagai buah dari sebuah konsep diri yang jelas sejak dari awal. Saat konsep diri berkembang tanpa desain, pola pikir dan pola keyakinan menjadi berkembang seadanya, sebertemunya pengalaman dan interaksi lingkungan serta respon orang lain.

Berbeda dengan psikologis seseorang yang telah menetapkan desain konsep dirinya sejak awal sebagai hamba Ar-Rahman, pikiran nya menjadi paham bahwa ia senantiasa diurus oleh Penciptanya yang tidak pernah tidur, hatinya menjadi yakin bahwa segala yang dijanjikan oleh Penciptanya adalah benar. Pola pikir dan pola keyakinan tentang kebersamaan dengan Allah SWT ini mempercepat pengembangan diri seseorang, dikarenakan pengembangan diri tersebut tidak lagi disandarkan pada logika semata dan apa yang ada dalam genggaman, namun disandarkan pada Dia Yang Maha Kuasa.

Desain konsep diri sebagai hamba Ar-Rahman membuat perencanaan konsep diri menjadi lebih baik. Pengalaman hidup dengan sengaja direncanakan, termasuk peran atau amanah dalam kehidupannya. Juga termasuk dengan sengaja merencanakan apa yang sering didengar dan dilihat. Karena konsep diri sebagai hamba, mengandung konsekuensi untuk taat penuh kepada Allah SWT Yang Menciptakan, yang telah menetapkan sesuatu menjadi laranganNya dan sesuatu menjadi hal yang disukai-Nya. Sehingga disadari atau tidak disadari, segala hal yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami serta dilakukan adalah hal-hal yang baik, yang kemudian secara cepat membentuk konsep diri yang baik atau positif.

Kemudian hal menarik lain dari konsep diri sebagai hamba Ar-Rahman adalah ketiadaan kebergantungan kepada reaksi, respon dan penilaian orang lain, karena telah memusatkannya kepada Allah SWT saja. Sebagaimana yang telah Allah SWT sampaikan dalam surat Al-Hujuraat: 13 bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah yang paling bertakwa, sehingga nilai yang dipakai adalah nilai ketakwaan tersebut. Sehingga seseorang menjadi fokus untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik, mengorbit kepada-Nya Yang Rahmaan dengan parameter nilai takwa.

Oleh karena itu, konsep diri sebagai hamba Ar-Rahman menjadi jalan bagi siapapun yang menginginkan kehidupan yang lebih terarah, yang menginginkan potensi dirinya berkembang lebih baik, dan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat kelak.

Ratu Kusumawati, S.Si, Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies Psikologi Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button