Ironi Piala Dunia 2026: Kapitalisme AS Cekik Suporter, Eropa Kalah Daya Beli
Washington (Suaraislam.id) – Ada sebuah kutipan terkenal dalam novel The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde yang tampaknya tepat menggambarkan cara pandang Eropa terhadap Amerika Serikat saat ini. Wilde menulis, “Saat ini orang mengetahui harga segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui nilainya.”
Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menjadi contoh paling sempurna untuk menggambarkan sindiran tersebut. Para penggemar sepak bola Eropa kini menjadi pihak yang paling lantang memprotes mahalnya biaya turnamen di Amerika Serikat, mulai dari harga tiket, akomodasi, hingga transportasi. Mereka menilai komersialisasi ugal-ugalan ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai dasar sepak bola, yaitu kebersamaan dan inklusivitas.
Namun, ada hal krusial yang gagal dilihat oleh publik Eropa di balik fenomena meroketnya harga tersebut. Realitas ini justru memperlihatkan betapa jauhnya Eropa telah tertinggal dari Amerika Serikat, baik dalam konteks kekayaan domestik maupun pengaruh global.
Ketika penjualan tiket pertama kali dibuka pada September lalu, FIFA mengiklankan tiket fase grup mulai dari 60 dolar AS. Sementara itu, kursi paling eksklusif untuk laga final dibanderol seharga 6.730 dolar AS.
Masalah runyam bermula saat sistem harga dinamis (dynamic pricing) mulai diberlakukan untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia di Amerika Serikat. Pada penjualan umum bulan Desember, tiket termurah untuk laga final melonjak drastis menjadi 4.185 dolar AS dan tiket termahal menyentuh 8.680 dolar AS. Bahkan pada periode penjualan musim semi, tiket kategori tertinggi meroket hingga angka 10.990 dolar AS.
Kelompok suporter Eropa menuduh FIFA telah mengubah turnamen universal ini menjadi produk mewah yang tidak lagi ramah bagi rakyat biasa. Banyaknya kursi kosong pada sejumlah pertandingan pembuka semakin menguatkan kritik atas mahalnya tarif yang dipatok.
Mantan pesepak bola profesional Inggris, Ian Wright, ikut menyampaikan kritik kerasnya melalui media sosial. Ia mengecam Amerika Serikat yang dinilai mempersulit aspek imigrasi hingga menolak masuk sebagian penggemar, jurnalis, dan seorang wasit asal Somalia.
Melalui akun pribadinya, Ian Wright menulis pidato kritik yang cukup menohok:
“Harus ada yang mengatakan ini. Tiket paling mahal sepanjang sejarah. Akomodasi mahal. Transportasi sangat mahal. Apakah ini cara tuan rumah menyelenggarakan turnamen terbesar di dunia?”
Ia juga menambahkan pertanyaan retoris: “Apakah ini semangat sepak bola? Benarkah demikian?”
Menurut Wright, para penggemar di Amerika Serikat yang tulus ingin menjadi tuan rumah yang baik pasti akan merasa malu melihat apa yang ia sebut sebagai “Piala Dunia yang kacau” ini.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat memiliki argumen kuat untuk membalikkan semua kritik mengenai bengkaknya biaya tersebut. Jawaban ini memukul balik kutipan Oscar Wilde dan mengungkap kenyataan pahit tentang kerabat budaya mereka di seberang Samudra Atlantik. Orang Eropa dinilai sangat memahami nilai dari segala sesuatu, tetapi mereka tidak memahami berapa harga sebenarnya untuk mendapatkan hal tersebut.






