JEJAK SEJARAH

Kota-Kota Islam: Bagaimana Perencanaan dan Pembangunannya?

Kota Basrah

Basrah merupakan kota perdana yang didirikan oleh kaum muslimin pascapembebasan wilayah Irak pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab tahun 16 Hijriah atau 635 Masehi. Mereka memilih lokasi di sisi barat Sungai Eufrat agar tidak ada hambatan bentang air yang memisahkan kota ini dengan Madinah Al-Munawwarah selaku ibu kota utama.

Secara arsitektural, Kota Basrah dibangun dengan pola tata ruang berbentuk persegi panjang yang simetris. Jalan protokol utamanya dirancang memiliki lebar enam puluh hasta, sedangkan untuk lebar setiap jalur gang sekunder ditetapkan berukuran tujuh hasta.

Kawasan pasar sengaja dibangun berdekatan dengan area masjid agung untuk mempermudah masyarakat dalam berinteraksi langsung dengan jajaran gubernur. Penempatan ini juga mempermudah jemaah dalam menunaikan ibadah salat sekaligus menyetorkan kewajiban pajak ke kas Baitulmal. Pada masa berikutnya, kota ini ditetapkan sebagai pusat administrasi pemerintahan selama era dinasti Bani Umayyah.

Kota Fusthat

Setelah Amru bin Ash berhasil menyelesaikan misi pembebasan Mesir dan mengusir pasukan Romawi dari sana, beliau mendirikan barak militer bagi pasukannya pada tahun 21 Hijriah atau 642 Masehi. Kawasan militer ini dinamai Fusthat dan tercatat sebagai kota ketiga yang dibangun kaum muslimin setelah Basrah dan Kufah.

Masyarakat segera berbondong-bondong datang untuk mendirikan bangunan rumah tinggal dan memakmurkan banyak masjid di kawasan baru tersebut. Tidak butuh waktu lama sejak awal perencanaannya, Fusthat menjelma menjadi kota dengan kualitas arsitektur bangunan yang sangat indah.

Amru bin Ash meletakkan batu pertama pembangunan masjid perdana di kota tersebut dan melaksanakan salat berjemaah di dalamnya. Beliau kemudian menjadikan bangunan rumah tinggalnya yang berada dekat masjid sebagai gedung pusat emirat.

Kota Kairouan

Pada tahun 661 Masehi, Khalifah Umar bin Khattab mengutus panglima militer Uqbah bin Nafi untuk menjalankan ekspansi pembebasan di wilayah Afrika Utara atau Tunisia. Pascapetikan kemenangan tersebut, Uqbah mendirikan sebuah kota baru tepat di tengah kawasan gurun pasir yang dinamai Kairouan.

Kota ini difungsikan sebagai pangkalan militer pertahanan bagi jajaran pasukan ekspedisi Islam pada tahun 50 Hijriah atau 670 Masehi. Kairouan dirancang memiliki empat belas gerbang utama sebagai akses keluar masuk kota yang dijaga ketat.

Kawasan pasarnya membentang di sepanjang jalur utama yang menghubungkan area masjid jami dengan gerbang Babur Rabi di sisi selatan kota. Jalur perdagangan ini memiliki panjang satu sepertiga mil dengan kontur permukaan persegi panjang yang menampung seluruh unit toko dan bengkel industri kerajinan.

Baghdad (Darussalam)

Ketika Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur naik takhta memimpin Kekhalifahan Abbasiah pada tahun 754 Masehi, beliau turun langsung ke lapangan untuk memilih lokasi ibu kota baru. Beliau menginginkan sebuah kawasan yang subur, berada tepat di titik tengah wilayah negaranya, serta memiliki akses konektivitas yang mudah ke seluruh provinsi.

Pilihan beliau akhirnya jatuh pada lokasi Kota Baghdad saat ini yang terletak di sisi barat aliran Sungai Tigris. Al-Manshur mulai melakukan proses pemetaan dan perencanaan kota Darussalam ini pada tahun 145 Hijriah atau 762 Masehi.

Kota ini dirancang dengan cetak biru berbentuk lingkaran sempurna yang dilindungi oleh parit dan dua lapis benteng tembok raksasa di sisi luar. Beliau juga menambahkan bangunan tembok lapis ketiga di bagian dalam serta melengkapinya dengan empat gerbang utama yang megah.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button