Maulid di LBH Keadilan Rakyat: Serukan Umat Ikuti Ulama untuk Selamatkan Bangsa

Ia kemudian mengutip sebuah hadis yang masyhur tentang datangnya zaman ketika manusia menjauh dari ulama, sehingga Allah menimpakan tiga musibah: dicabut keberkahan, dipimpin penguasa zalim, dan wafat tanpa membawa iman.
“Sekarang banyak orang khususnya anak muda rela begadang menonton bola atau mengikuti artis dan atlet. Pertanyaannya, pernahkah mereka rela begadang mendengar nasihat ulama?” katanya.
Dalam tausiyahnya, Babah Chaerul juga menyoroti paradoks Indonesia sebagai negeri yang kaya sumber daya, tetapi rakyatnya masih bergelut dengan kemiskinan.
Ia menilai persoalan tersebut bukan semata ekonomi, melainkan akibat umat menjauh dari ajaran Rasulullah SAW dan meninggalkan ulama yang lurus sebagai pewaris Nabi.
Menurutnya, penjajahan masa kini tidak lagi hadir dalam bentuk perang fisik, melainkan melalui neo-kolonialisme yang bekerja lewat politik, ekonomi kapitalis liberal, dan infiltrasi pemikiran sekulerisme, pluralisme, liberalisme, serta berbagai ideologi yang melemahkan umat.
Ia juga menyayangkan munculnya fitnah besar terhadap pondok pesantren yang digambarkan sebagai tempat penyimpangan seksual, padahal pesantren selama ini menjadi benteng pendidikan akidah dan moral bangsa. Kalaupun ada kasus, itu hanya ada di satu dua pesantren saja, tapi dengan fitnah ini seolah-olah semua pesantren bermasalah.
“Ketika ulama ditinggalkan dan pesantren terus dijelekkan, keberkahan negeri ikut terangkat. Negara kaya, tetapi rakyatnya miskin. Itu peringatan yang harus kita renungkan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Babah Chaerul mengajak umat Islam menjadikan Maulid sebagai titik awal perubahan yang dilakukan dengan kesabaran, ilmu, dan ketaatan kepada syariat Islam. Ia juga menyerukan umat Islam untuk lebih dekat dengan Ulama dan bersama-sama berjuang untuk perbaikan bangsa.
Ia menegaskan bahwa Islam telah menyediakan pedoman kehidupan yang lengkap, sehingga kebangkitan bangsa hanya mungkin lahir apabila umat kembali kepada ajaran Islam yang sempurna, menghormati ulama, memuliakan orang tua dan guru, serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.
“Mudah-mudahan dengan Maulid ini kita menjadi pribadi yang lebih baik, umat semakin bersatu, dan bangsa Indonesia kembali bermartabat di bawah petunjuk Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya. []






