Memahami Hadis Awal Ramadhan Rahmat: Antara Populer dan Status Keilmuannya
Menjelang bulan suci Ramadhan, kaum Muslimin sering mendengar sebuah hadis yang sangat populer: “Awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadis ini kerap disampaikan dalam ceramah, khutbah, maupun tulisan keislaman. Namun, dalam kajian ilmu hadis, riwayat tersebut ternyata berstatus dhaif (lemah).
Tulisan ini mencoba menguraikan redaksi hadis, sebab kedhaifannya, serta pandangan para ulama terkait penggunaannya.
Redaksi Hadis dan Sumbernya
Hadis yang dimaksud berbunyi:
أَوَّلُ شَهْرُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Riwayat ini disebutkan antara lain oleh Ibn Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 1887) dan oleh al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman. Meskipun tercantum dalam kitab yang memuat hadis-hadis sahih, para ulama menegaskan bahwa tidak semua hadis di dalamnya memenuhi kriteria sahih secara mutlak, karena penulisnya terkadang menyertakan riwayat yang masih diperselisihkan.
Para ahli hadis menilai riwayat ini dhaif karena adanya kelemahan pada sanad (rantai periwayatan). Salah satu titik kelemahan terletak pada perawi bernama Ali bin Zaid bin Jud‘an. Ulama jarh wa ta‘dil (kritik perawi) memberikan penilaian sebagai berikut: (1) Imam Ahmad: laysa bi al-qawi (tidak kuat). (2) Yahya bin Ma‘in: lemah. (3) Abu Hatim: tidak kuat dan hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. (4) Al-Nasa’i: lemah. Oleh karena adanya perawi yang dinilai lemah dalam sanadnya, maka kualitas hadis ini tidak mencapai derajat sahih atau hasan.
Selain itu, sebagian ulama juga mengkritik matan (isi) hadis tersebut. Pembagian Ramadhan menjadi tiga fase dengan keutamaan yang berbeda tidak memiliki penguat dari riwayat sahih lainnya. Dalam hadis-hadis sahih, keutamaan seperti rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka disebutkan berlaku sepanjang bulan Ramadhan, bukan dibatasi pada sepuluh hari tertentu.
Beberapa ulama hadis secara tegas menyatakan kelemahan riwayat ini: Al-Baihaqi setelah meriwayatkannya menyebutkan bahwa sanadnya lemah. Ibn Hajar al-‘Asqalani menilai hadis ini tidak kuat. Syaikh al-Albani dalam Dha‘if al-Jami‘ memasukkannya sebagai hadis dhaif.
Namun demikian, sebagian ulama memberikan catatan penting terkait pemahamannya. Mereka menjelaskan bahwa meskipun riwayatnya lemah, makna umumnya tidak bertentangan dengan pembebasan dari neraka.
Koreksi dari Hadis Sahih
Dalam hadis sahih disebutkan:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ
“Apabila Ramadhan datang, maka dibukalah pintu-pintu rahmat.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa rahmat dan ampunan mencakup seluruh bulan, tidak terbatas pada bagian tertentu saja. Dan setidaknya hadis ini adalah hadis yang sahih, tidak bermasalah.






