Memang Prabowo Peduli Palestina?
Prabowo dan Palestina
Sikap Prabowo kepada Palestina sering terlihat ambigu. Meski pemerintahannya mengirimkan bantuan kepada rakyat Gaza, tapi pemihakan tegas Prabowo kepada Gaza/Palestina dipertanyakan. Mengapa?
Pertama, karena Prabowo tidak berani memutuskan hubungan dagang dengan Israel padahal nilai perdagangan Indonesia-Israel dengan keseluruhan perdagangan luar negeri hanyalah 0,05 persen. Padahal saat itu banyak negara memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Israel.
Baca juga: Prabowo Jangan Pengecut, Putuskan Hubungan Dagang dengan Israel Segera
Kedua, Prabowo tidak berani menerima resmi utusan Hamas di istananya. Padahal beberapa negara Islam, setidaknya Malaysia, Turki dan Qatar menerima perwakilan resmi Hamas di negaranya dengan baik.
Sikap Prabowo terhadap pejuang sejati kemerdekaan Palestina ini memalukan. Bahkan ketika Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dr Marwan Al Sultan dan keluarganya wafat dibunuh Israel, Prabowo sama sekali tidak mengucapkan duka cita. Padahal ucapan duka cita resmi Presiden Indonesia ini penting untuk menunjukkan sikap resmi pemerintah menentang penjajahan Israel ke Palestina.
Baca juga: Mengapa Prabowo Tidak Ucapkan Bela Sungkawa Atas Wafatnya Dokter Marwan Al Sultan?
Ketiga, Prabowo terlihat lebih memperhatikan keamanan Israel daripada keamanan Palestina. Lihatlah ucapan menggelikan Prabowo kepada para wartawan di New York pada 24 September 2025, “Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan Israel. Israel pun harus dijamin keamanannya baru kita mendapat perdamaian.”
Banyak masyarakat bertanya, kenapa Israel yang keamanannya sangat kuat bahkan didukung Amerika harus dijamin? Yang dijamin keamanannya harusnya Palestina, karena Israel terus menerus menjarah Palestina, membunuh dan sampai sekarang -meski gencatan senjata diberlakukan-Israel terus membunuhi rakyat Gaza.
Karena itu, banyak pengamat politik yang mengritik tajam kebijakan pemerintahan Prabowo terhadap Palestina ini. Menurut Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS, ”Kebijakan luar negeri Indonesia hari ini sangat dipengaruhi kepentingan ekonomi dan investasi global. Palestina sering kali menjadi korban kompromi ini.”
Ia menambahkan, ”Sulit membayangkan Indonesia akan mengambil langkah keras terhadap Israel jika itu berisiko mengganggu relasi dengan Amerika Serikat.”
Pandangan serupa disampaikan Dr. Connie Rahakundini Bakrie, analis geopolitik, “Prabowo adalah aktor realistis. Ia tidak akan berkonfrontasi langsung dengan Trump atau Netanyahu. Yang dipilih adalah jalan aman, meski itu berarti mengorbankan prinsip historis Indonesia.”
Lebih tegas lagi pernyataan Dr Zulfikar Rachmat dalam tulisannya di Middle East Monitor, 24 Januari 2026, “Presiden Indonesia Prabowo Subianto tidak peduli pada Palestina. Bukan pada pembebasan. Bukan pada keadilan. Bukan pada penghentian pendudukan atau pembongkaran sistem apartheid. Yang ia pedulikan adalah kekuasaan, prestise, dan citra dirinya di panggung dunia. Inilah hakikat kebijakan luar negerinya. Palestina bukanlah sebuah prinsip -melainkan sekadar properti (diplomasi).”
Maka jangan banyak berharap Prabowo akan berperan banyak dalam Dewan Perdamaian. Melihat kepribadiannya, kemungkinan dia akan menjadi pak Turut dan membebek perintah Trump dan inilah yang dikhawatirkan banyak masyarakat Indonesia. Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






