Mencari Ketenangan Jiwa di Tengah Ketidakpastian
Oleh: Herlina Martiana (Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat)
Pernahkah kita merasa ingin menjalani hidup dengan tenang? Kita ingin hidup tanpa stres serta menjalani hari dengan santai tanpa memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Namun, ketika mencoba tenang, pikiran justru mulai mencari berbagai hal untuk dipikirkan.
Pikiran mulai melayang ke masa depan, memikirkan perkataan orang lain, hingga mengingat kejadian kecil yang sudah berlalu. Sesuatu yang awalnya biasa saja dapat berubah menjadi persoalan besar hanya karena terlalu lama berada di dalam pikiran. Fenomena seperti ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seseorang sering menyatakan ingin hidup tenang, tetapi pada saat bersamaan terus mempertanyakan hal yang belum pasti. Pertanyaan muncul tentang masa depan, kebenaran keputusan yang diambil, hingga penilaian orang lain. Pada dasarnya, manusia bukan sedang mencari masalah, melainkan terlalu ingin memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ketika menghadapi ketidakpastian, pikiran manusia cenderung berusaha mencari jawaban. Sayangnya, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang dapat diperoleh saat itu juga. Ketidakpastian inilah yang membuat seseorang terjebak dalam overthinking.
Berbagai kemungkinan dipikirkan demi menemukan kepastian. Namun, makin banyak kemungkinan yang dipikirkan, makin banyak pula pertanyaan baru yang bermunculan. Akhirnya, pikiran yang awalnya bertujuan mencari solusi justru memicu kecemasan.
Contoh sederhananya adalah ketika seseorang belum membalas pesan kita. Awalnya, hal itu dianggap biasa saja. Setelah beberapa waktu, muncul pertanyaan kecemasan seperti alasan pesan belum dibalas atau kekhawatiran adanya perkataan yang salah.
Padahal, penerima pesan mungkin sedang sibuk, bekerja, belajar, atau belum sempat membuka ponselnya. Oleh karena alasannya belum diketahui, pikiran mulai menciptakan berbagai kemungkinan sendiri. Hal yang memicu kecemasan terkadang bukanlah keadaan sebenarnya, melainkan narasi yang dibangun di dalam pikiran.
Kesimpulan sering kali dibuat sebelum jawaban didapatkan. Kecemasan pun dirasakan seolah-olah masalah tersebut benar-benar terjadi. Di sinilah pentingnya membedakan antara berpikir dan terlalu memikirkan sesuatu.
Berpikir tentu diperlukan untuk mempertimbangkan keputusan, mengevaluasi kesalahan, merencanakan masa depan, dan belajar dari pengalaman. Namun, ketika pikiran terus berputar pada hal yang sama tanpa menghasilkan penyelesaian, proses berpikir telah berubah menjadi beban.
Perlu disadari bahwa tidak semua hal berada di bawah kendali manusia. Pendapat orang lain, respons terhadap pesan, masa depan, maupun perlakuan orang lain tidak selalu dapat dikendalikan. Hal yang dapat dikendalikan adalah cara kita merespons keadaan tersebut.
Oleh karena itu, hidup tenang bukan berarti harus berhenti berpikir. Hidup tenang berarti belajar memahami hal yang perlu dipikirkan dan hal yang sebaiknya dilepaskan. Ada hal yang membutuhkan tindakan, tetapi ada pula yang hanya membutuhkan waktu. daripada terus memikirkan hal yang belum terjadi, sesekali kita perlu berhenti, menarik napas, dan menyadari bahwa hal yang belum terjadi tidak perlu dikhawatirkan saat ini.[]






