Renungan Surah Ibrahim Ayat 34: Tamparan Keras bagi Jiwa yang Gemar Mengeluh
Oleh: Muhamad Alif Alfarizi, Mahasiswa Fakultas Ushuludin Universitas PTIQ Jakarta Angkatan 2023.
Surah Ibrahim ayat 34 sebenarnya merupakan teguran lembut yang mengajak kita untuk senantiasa mawas diri. Kita sering kali terlalu sibuk mengeluhkan satu hal yang kurang, hingga melupakan ribuan nikmat lain yang Allah Swt. berikan secara cuma-cuma tanpa perlu diminta.
Intinya, ayat ini menyentil kebiasaan manusia yang kerap mengalami “amnesia” terhadap kebaikan Pencipta. Kita sangat mahir meminta, tetapi sering kali lupa caranya berterima kasih atas pemberian yang jumlahnya bahkan tidak mampu kita hitung sendiri.
Ayat tersebut berbunyi:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Banyak dari kita yang merasa mudah bersyukur saat kehidupan sedang berjalan lancar, rezeki mengalir, dan segala keinginan terkabul. Namun, sesuai dengan sentilan dalam Surah Ibrahim ayat 34, masalah utamanya adalah kita sering kali mendadak buta terhadap ribuan nikmat lain ketika satu ujian datang menyapa.
Padahal, karunia Allah Swt. tidak pernah berhenti sedetik pun, bahkan saat kita sedang berada dalam situasi sesulit apa pun. Iman yang dewasa bukan sekadar rajin berterima kasih saat senang, melainkan tentang kesadaran bahwa kebaikan-Nya terlalu luas untuk diabaikan hanya karena kita sedang diuji.
Dalam Tafsir al-Misbah, Prof. Quraish Shihab mengingatkan bahwa nikmat Allah Swt. itu senantiasa beranak-pinak. Satu nikmat kesehatan saja bisa menghasilkan ribuan kemaslahatan lainnya, seperti kemampuan bekerja, beraktivitas, hingga berkumpul bersama keluarga.
Oleh karena itu, mustahil bagi manusia untuk bisa benar-benar melunasi utang syukur tersebut hanya dengan kata-kata.
Sementara itu, dalam Tafsir al-Jalalain ditekankan bahwa Allah Swt. memberikan segala hal yang menjadi kebutuhan hidup kita. Hal itu mencakup apa yang kita minta secara lisan maupun yang hanya terbersit di dalam hati kita.
Pada hakikatnya, tidak ada satu pun alat hitung di dunia ini yang sanggup menjumlahkan rincian nikmat tersebut karena sifatnya yang terus-menerus ada setiap waktu.
Selanjutnya, Tafsir al-Qurtubi menjelaskan bahwa sifat zhalum (sangat zalim) muncul ketika manusia lebih memilih mengeluh daripada melihat keajaiban yang sudah mereka miliki.
Imam al-Qurtubi menyoroti bahwa banyak manusia yang kufur bukan karena tidak percaya Tuhan, melainkan karena mereka menutupi kenyataan hidupnya yang penuh kebaikan demi memuaskan ego dan keluhan sesaat.
Secara praktis, ayat ini menantang kita untuk mengubah pola pikir dari hamba yang hobi mengeluh menjadi pribadi yang penuh apresiasi. Kita diajak berhenti mengeluh dan mulai menyadari bahwa setiap keberhasilan bukanlah murni kehebatan diri sendiri, melainkan adanya dukungan fasilitas gratis dari Allah Swt.
Melalui kesadaran ini, kita akan memiliki ketahanan mental yang jauh lebih kuat saat diterpa badai ujian. Kita tidak akan merasa dunia kiamat karena sadar bahwa jutaan nikmat lain masih tetap Allah Swt. berikan tanpa henti.
Pada akhirnya, pesan dalam Surah Ibrahim ayat 34 ini berfungsi sebagai cermin besar bagi karakter kita sendiri. Kita diberi pilihan: mau terus menjadi orang berpikiran sempit karena meratapi apa yang tidak ada, atau mulai melatih diri menjadi pribadi yang tahu terima kasih.
Ayat ini mengajak kita sadar bahwa hal sekecil tarikan napas pun adalah kado istimewa dari Allah Swt. yang sering kali dianggap biasa saja. Padahal, nilainya jelas tidak akan pernah terukur oleh materi atau apa pun di dunia ini.[]






