IBRAH

Meneladani Jiwa Besar Sahabat Rasulullah saw

“Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Pepatah penuh makna ini menggambarkan bahwa semakin berilmu atau berpangkat seseorang, hendaknya dirinya semakin rendah hati.

Salah satu indikator orang yang memiliki ilmu padi adalah berjiwa besar, yaitu orang yang dapat menerima, menilai, dan mengontrol situasi emosional yang melingkupinya dengan benar.

Tak ada yang menampik bahwa orang yang berjiwa besar senantiasa menampakkan kemuliaan karena lisan dan perbuatannya memancarkan keimanan kepada Allah Swt. Pun setiap orang yang berinteraksi dengannya akan merasakan manfaat dan keberkahan dari lisan dan perbuatannya.

Namun, menjadi sosok yang berjiwa besar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mutlak dibutuhkan ilmu dan tempaan untuk mengokohkan jiwa. Untuk memperkuat hal tersebut, dibutuhkan pula teladan nyata karena teladan lebih berimpak dalam kehidupan dibandingkan sekadar kata-kata.

Dalam sejarah Islam, bertaburan sosok berjiwa besar. Sosok teladan yang tak ada duanya tentu saja Rasulullah saw. Beliau saw. memang sangat istimewa karena Beliau saw. tidak berbicara dan berbuat kecuali dalam bimbingan wahyu Allah Swt.

Di luar Beliau saw., ada teladan lain yang dipuji Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik. Mereka ditasqif (dibina) oleh Rasulullah saw. secara langsung. Ya, mereka adalah para sahabat Rasulullah saw.

Berikut beberapa contoh sahabat Rasulullah saw. yang dalam segmen hidupnya menunjukkan jiwa besar yang patut diteladani:

Salman al-Farisi: Tak Patah Hati Tertolak Cinta

Salman al-Farisi tidak memiliki keluarga di Madinah karena ia berhijrah seorang diri dari Persia untuk mencari kebenaran Islam. Lama menjomblo, keinginannya untuk berumah tangga begitu membuncah.

Ia meminta bantuan saudara seimannya, Abu Darda, sebagai perantara khitbah pada seorang gadis Ansar yang salihah dan rupawan. Abu Darda mengetahui keadaan saudaranya yang membutuhkan keluarga, sehingga ia pun bergembira menyampaikan perihal niat Salman al-Farisi kepada keluarga sang gadis.

Namun, siapa nyana gadis tersebut ternyata lebih tertarik kepada Abu Darda, bukan Salman al-Farisi. Lantas bagaimana sikap Salman al-Farisi? Di sinilah jiwa besar sang pencari kebenaran terlihat. Baginya, jodoh adalah qadha Allah Swt. Pada setiap qadha Allah Swt. tentu ada hikmah dan pelajaran kehidupan.

Dengan sigap Salman al-Farisi menyerahkan mahar dan harta untuk Abu Darda menikahi gadis tersebut. Bahkan, dirinya meminta untuk dijadikan saksi pernikahan. Dia bergembira atas pernikahan saudaranya; tidak ada patah hati, apatah lagi dendam dan benci kepada sahabatnya.

Saat rumah tangga Abu Darda “dingin” karena membiarkan istrinya dalam kesendirian—lantaran dari siang hingga malam ia tenggelam dalam ibadah puasa dan salat malam—Salman al-Farisi lah yang membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Rasa sayangnya kepada sesama saudara seiman menggerakkan hatinya untuk menasihati Abu Darda agar menunaikan hak Allah Swt., hak tubuhnya sendiri, dan hak istrinya. Nasihatnya tersebut membuahkan hasil. Abu Darda menunaikan hak istrinya dengan baik dan rumah tangga Abu Darda pun kembali seperti sedia kala.

Khalid bin Walid: Tak Hilang Muka Turun Jabatan

Siapa tak mengenal sang Pedang Allah yang Terhunus? Puluhan peperangan ia hadapi dengan keimanan dan kecerdasan. Kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim dalam dakwah. Bahkan, peradaban besar Romawi dan Persia tunduk di bawah kekuasaan Islam atas peran sertanya sebagai pemimpin perang.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button