Menemukan Diri yang Hilang
Berbeda dengan dunia kampus yang berlomba-lomba dalam melakukan kesalahan (dosa). Di pikiran mereka melakukan dosa itu suatu hal yang wajar, bahkan terlihat keren. Dengan pecaya dirinya mereka minum-minuman keras di depan orang banyak, memperlihatkan hal yang berbau negatif di media sosial, dan dengan mudahnya mempengaruhi teman lainnya untuk terjerumus ke dalamnya. Tidak ada rasa malu bahkan mereka bangga dengan apa yang mereka lakukan.
Aku pun sempat terjerumus dalam ajakan mereka, sampai di titik di sekelilingku tidak ada orang yang melakukan kebaikan. Aku masuk ruangan dengan lampu kelap-kelip, ada meja yang di atasnya berbagai macam minuman keras. Dan di situ aku sadarkan diri, belum ku sentuh barang tersebut, aku langsung masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan bertawasul kepada guru-guru kami.
Dalam hati “Ya Allah apa yang aku lakukan, terlalu jauh aku mengenal dunia, bukan ini yang aku inginkan.”
Rasa syukur terus kupanjatkan. Tuhan menyadarkanku tentang rasa takut dalam menghadapi dunia ini.
Ingin ku kembali ke duniaku yang dulu, ke dalam pondok pesantren, banyak teguran, dikelilingi dengan nasihat, tidak sampai terjerumus dalam hal yang tidak diinginkan.
Pada zaman sekarang sebaik-baiknya tempat adalah pondok pesantren. Kampus juga tidak buruk, semua tergantung jalan apa yang kalian pilih. Anak pondok yang biasa disebut dengan kata santri, dengan mengatakan diri ini seorang santri.
Santri itu membawa nama baik pondoknya, nama baik gurunya. Jangan sampai apa yang kita lakukan mencoreng nama santri, apalagi sampai mencoreng nama baik guru kita. Guru kami mengajarkan bahwa pedoman yang kami pegang yaitu “مازلت طالبا” “selamanya aku adalah santri” tidak ada kata mantan santri.[]
Achmad Musyafiq, Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.






