Asmara Memuncak di Antara Bait Alfiyyah
Oleh: M. Iklil Farido Amirudin, Mahasantri Semester 4 Ma’had Aly Darussalam Blokagung, Banyuwangi.
Di sebuah pesantren yang aroma kopinya lebih tajam daripada sindiran pengurus keamanan, hiduplah seorang santri bernama Luqman. Luqman bukan santri sembarangan.
Ia adalah ahli nahwu yang sanggup mencari alasan logis mengapa kata cinta dianggap sebagai isim ghairu munsharif. Baginya, status itu merupakan alegori dari perasaan yang susah bergeser jika sudah menempel di dalam hati.
Namun, masalahnya hanya satu: Luqman sedang jatuh cinta. Objek pengamatannya adalah Fatimah.
Fatimah adalah santriwati yang jika lewat di depan kompleks putra dengan jarak aman 50 meter, langsung membuat hafalan Alfiyyah Luqman mendadak hilang. Hafalan yang semula sudah di luar kepala itu seketika terasa pindah ke lutut.
Sebagai santri yang dibesarkan dengan didikan kitab kuning, Luqman tahu betul bahwa pacaran adalah jalur ekspres menuju murka kiai. Aktivitas tersebut juga dapat menghilangkan barakah ilmu.
Ia teringat sebuah nasihat dalam kitab Al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali:
يُقَالُ فِي الْعِشْقِ: إنَّهُ إفْرَاطُ الْمَحَبَّةِ، وَإِنَّمَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ إنَّهُ الْمَحَبَّةُ الْمُفْرِطَةُ
“Dikatakan mengenai al-’isyq (cinta yang mendalam) bahwa ia adalah melampaui batas dalam mencintai (tindakan berlebih-lebihan). Namun, semestinya dikatakan bahwasanya ia adalah cinta yang melampaui batas (sifat cintanya yang memang sudah berlebih).”
Luqman sadar, jika ia nekat menyatakan cinta sekarang, hal itu tidak akan berakhir di akad nikah. Langkah ceroboh tersebut justru akan membawanya ke “akad takzir” berupa hukuman gundul massal.
Belum lagi, ia teringat bahwa fokus utamanya saat ini adalah muthala’ah. Ia tidak boleh sibuk memikirkan pesan WhatsApp berisi pertanyaan “Sudah makan belum?” yang menurutnya sama sekali tidak berbobot secara epistemologis.
Bagi Luqman, mencintai dalam diam adalah bentuk ijtihad. Ia tidak ingin mengganggu hafalan Fatimah yang mungkin sedang berjuang menghafal bait-bait nadham Maqshud.
Baginya, menyatakan cinta saat masih mondok itu ibarat memasukkan amil nawashib ke dalam kalimat yang sudah marfu’. Tindakan tersebut hanya akan merusak tatanan yang sudah mapan.
Luqman mempunyai prinsip teguh yang ia kutip dari kitab Adab al-Dunya wa al-Din karya Al-Mawardi:
فَمَنْ غَلَّبَ عَقْلَهُ عَلَى شَهْوَتِهِ فَهُوَ خَيْرٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، وَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَلَى عَقْلِهِ فَهُوَ شَرٌّ مِنَ الْبَهَائِمِ.
“Barangsiapa yang memenangkan akalnya atas syahwatnya, maka ia lebih baik daripada malaikat. Barangsiapa yang memenangkan syahwatnya atas akalnya, maka ia lebih buruk daripada hewan.”






