Mengapa Gus Yahya Sebaiknya Mundur?
Konflik antara Syuriah dan Tanfidziyah di NU pernah terjadi juga di zaman kepemimpinan Gus Dur (1984). Saat itu Kiyai Ahmad Shiddiq yang duduk sebagai Ketua Syuriah menyatakan bahwa kepemimpinan Gus Dur sudah batal. Beberapa kiyai menyebut imamnya kentut.
Tapi konflik ini akhirnya bisa ditengahi dan Gus Dur tetap sebagai Ketua Umum. Meskipun banyak pihak mendesak agar Gus Dur dilengserkan.
Gus Dur sendiri juga dikenal dekat dengan zionis Israel. Bahkan ketika menjadi presiden, ia ingin membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi karena penolakan kuat dari umat Islam, Gus Dur membatalkannya. Meski demikian di era Gus Dur terjadi hubungan dagang dengan Israel (2000). Yaitu ketika Luhut Binsar Pandjaitan menjabat sebagai Menteri Perdagangan.
Seperti diketahui karena jasa-jasa Gus Dur ke Israel, ia akhirnya dianugerahi Shimon Peres Award. Gus Dur memang dikenang sebagai tokoh perdamaian oleh Israel dan dikenal juga sebagai penentang keras radikalisme/fundamentalisme Islam.
Maka, jangan heran Yahya Staquf dan lain-lain kemudian mengikuti jejak Gus Dur ke Israel. Selama para kiyai dan tokoh NU tidak berani menyalahkan tindakan Gus Dur yang mendukung Israel, maka selama itu pula akan muncul tokoh-tokoh muda NU yang akan menjalin hubungan dengan Israel.
Kritik lain juga muncul kepada Yahya Staquf. Yaitu ia banyak mengangkat caretaker (pemimpin sementara) di berbagai daerah. Kebijakan Gus Yahya mengangkat banyak caretaker ini memang secara hukum organisasi diperbolehkan. Tetapi karena skala dan frekuensinya berlebihan, membuat banyak pihak menilai terjadi sentralisasi berlebihan. Di samping itu muncul persepsi bahwa PBNU menjadi terlalu politis serta memicu ketegangan antara Tanfidziyah dan Syuriah di berbagai tingkat.
Beberapa kiai Syuriah menyampaikan keberatan kepada pengurus PBNU sekarang ini. Kritik itu antara lain banyak keputusan-keputusan strategis (keuangan/tambang) tidak cukup dimusyawarahkan. Kedua, terlalu dekat dengan kekuasaan dan konglomerat. Ketiga, arah NU terlalu duniawi dan kehilangan ruh perjuangan.
Banyak aspek sebenarnya permintaan dari para kiai syuriah NU agar Gus Yahya mengundurkan diri. Tapi mungkinkah Yahya bersedia? Kekuasaan itu enak lho. Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






