INTERNASIONAL

Mengapa Israel Berusaha Mem-framing Ulang Perangnya di Gaza?

Israel sedang kehilangan dukungan di dua medan pertempuran kuncinya: hati dan pikiran rakyat Amerika.

Perubahan Sikap di Kalangan Muda dan Evangelis

“Bahkan sebelum perang di Gaza, dukungan terhadap Israel sudah menurun dan simpati terhadap Palestina meningkat di kalangan anak muda Amerika, termasuk umat Kristen Evangelis muda,” kata Dov Waxman, profesor studi Israel di Universitas California.

“Perilaku Israel selama perang di Gaza mempercepat erosi dukungan ini secara drastis.”

Survei oleh Telhami membenarkan hal itu.

Survei Universitas Maryland (PDF) antara Juli–Agustus tahun ini menemukan bahwa dukungan terhadap Palestina telah meluas dari Demokrat muda ke seluruh partai, sementara perpecahan besar muncul antara Republikan tua dan muda terkait dukungan terhadap Israel.

Yang lebih mencemaskan bagi para pembuat kebijakan Israel — dan menjelaskan kontrak dengan Faith Through Works — adalah survei lain pada periode yang sama yang menunjukkan meningkatnya penentangan terhadap perang Israel di Gaza di kalangan muda Evangelis, yang dulu merupakan basis dukungan paling loyal bagi Israel.

Perpecahan di Kalangan MAGA

Pergeseran ini kini menjalar ke politik arus utama AS — bahkan ke gerakan Make America Great Again (MAGA) pendukung Presiden Trump.

Pada Juli, salah satu tokoh paling vokal MAGA, Marjorie Taylor Greene, menentang rancangan undang-undang yang memberi bantuan senilai 500 juta dolar AS untuk Israel.

“Israel bersenjata nuklir punya utang nasional di bawah 400 miliar dolar, dibanding utang nasional kita yang mencapai 37 triliun,” tulis Greene di platform X.

“Israel tampaknya mampu mengurus pertahanan dan utangnya sendiri, jadi wajib pajak Amerika tidak perlu menanggung 500 juta dolar lagi dalam RUU pertahanan kita.”

Tokoh MAGA lain, Tucker Carlson, bahkan menyebut Christian Zionists sebagai “bidah.” Di acaranya di YouTube, ia berkata:

“Hanya ada satu cerita yang terus dibahas — Israel. Padahal, dari segi geopolitik, itu tidak terlalu penting. Tapi kita menghabiskan waktu, uang, dan mengambil risiko besar demi negara yang sebenarnya tidak signifikan secara strategis.”

“Kepemimpinan Republik AS masih kuat di belakang Israel, dan itu tak akan berubah di pemerintahan Trump ini,” kata H.A. Hellyer dari Royal United Services Institute.

“Tapi ada tren kuat dalam kelompok MAGA ‘America First’ yang ingin mengubah kebijakan luar negeri AS agar tak lagi berpusat pada Israel.”

Ia mencontohkan Carlson dan Candace Owens sebagai tokoh yang mendorong arah baru ini.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button