OASE

Mengapa Penuntut Ilmu Masih Bermaksiat?

Ilmu dan Amal Tidak Selalu Berjalan Bersama

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap ilmu dan amal sebagai sesuatu yang otomatis menyatu. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda.

Banyak orang mengetahui bahwa merokok itu berbahaya, tetapi mereka tetap merokok. Banyak pula orang memahami pentingnya menjaga kesehatan, tetapi tetap mengabaikan pola hidup sehat.

Mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mampu melakukannya. Hal yang sama berlaku dalam urusan agama.

Seseorang dapat mengetahui bahwa ghibah adalah dosa, pandangan harus dijaga, dan kejujuran adalah kewajiban. Ia juga paham bahwa kemaksiatan mendatangkan murka Allah Swt.

Namun, pengetahuan tersebut belum tentu cukup kuat untuk mengalahkan keinginan diri yang bertentangan dengan kebenaran. Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena ia tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena ia tidak mampu mengikuti kebenaran yang sudah diketahuinya.

Bahkan, mungkin masalah terbesar umat saat ini bukan kurangnya ilmu, melainkan terlalu banyak ilmu yang belum diamalkan. Sebelum bertanya mengapa sebagian penuntut ilmu masih bermaksiat, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri.

Sudah berapa banyak ilmu yang telah kita pelajari tetapi belum kita amalkan? Berapa banyak nasihat yang kita sampaikan kepada orang lain, tetapi belum sepenuhnya kita terapkan dalam kehidupan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena persoalan ilmu yang tidak diamalkan bisa terjadi pada siapa saja. Dalam kadar yang berbeda, hampir setiap Muslim pernah mengalaminya.

Karena itu, artikel ini bukan sekadar membahas orang lain. Tulisan ini juga mengajak kita semua untuk bercermin.

Ilmu Menunjukkan Jalan, tetapi Tidak Memaksa Seseorang Berjalan

Ilmu ibarat peta yang menunjukkan arah tujuan. Dengan peta itu, seseorang tahu jalan mana yang benar dan jalan mana yang salah.

Namun, peta tidak bisa memaksa seseorang untuk berjalan di jalur yang benar. Keputusan untuk melangkah tetap berada di tangan manusia itu sendiri.

Inilah sebabnya seseorang bisa mengetahui suatu perbuatan adalah dosa, tetapi tetap melakukannya. Hal itu terjadi bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena ada dorongan lain yang lebih kuat daripada ilmunya pada saat itu.

Dalam banyak kasus, kemaksiatan terjadi bukan karena kurangnya pengetahuan. Fenomena ini lebih disebabkan oleh lemahnya kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button