Mewaspadai Dunia Digital: Pedang Bermata Dua
Dunia telah berkembang dengan pesat. Kini, untuk berkumpul dan bercerita, tidak perlu menempuh jarak yang jauh. Cukup dengan gadget. Untuk membeli dan menjual barang, tidak perlu berdesakan di pasar. Cukup dengan gadget. Untuk mengembangkan harta, memperoleh pekerjaan dan penghasilan pun tidak selalu dengan peluh keringat. Cukup dengan gadget.
Seakan gadget dapat memberikan semua yang kita butuhkan. Begitulah realita masa kini. Dunia digital telah membantu memenuhi kebutuhan manusia. Segala bisa menjadi sangat instan dan mudah, hanya bermodal gadget dan klik, semua bisa selesai.
Dunia Digital bagai Pedang Bermata Dua
Tidak dimungkiri, adanya kemajuan teknologi menjadi sebuah kemudahan. Waktu bisa dipergunakan lebih efisien, begitu pula dengan tenaga. Segalanya menjadi serba instan dan praktis.
Akan tetapi, di balik itu semua ada hal pahit yang harus diwaspadai. Dengan segala instan manusia kini malas untuk bergerak. Jika lapar tinggal pesan melalui aplikasi, maka makanan akan segera datang. Jika ingin belanja tinggal memilih-milih barang yang dicari di marketplace, maka barang pun akan diantar.
Alat transportasi pun semakin canggih. Tanpa memiliki kendaraan pun setiap orang bisa pergi menaiki kendaraan dengan mudah. Akhirnya semua terlena dengan kecanggihan ini. Tidak heran jika tingkat obesitas di negeri ini meningkat tajam. Prevalensi dewasa dilaporkan mencapai 21,8% pada tahun 2018, sementara pada perempuan berusia 40-44 tingkat obesitas sekitar 41,7% pada 2023. Anak dan remaja pun mengalami lonjakan kenaikan hingga tiga kali lipat antara 2000-2022 pada usia 5-19 tahun.
Di sisi lain pada kalangan generasi muda, gadget seakan sudah menjadi separuh nafasnya. Dilansir cnbcindonesia.com (13/9/2025), sebanyak 98,7% penduduk Indonesia yang berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online. Rata-rata waktu online masyarakat pun tergolong tinggi, yakni 7 jam 22 menit. Menjebak generasi muda menjadi kaum rebahan dan sulit bersosialisasi.
Begitulah dunia digital bak pedang bermata dua. Satu sisi memberi kemudahan, serba cepat dan praktis, namun sisi lain berakibat bahaya bagi masa depan generasi dan seluruh masyarakat. Maka, sebagai makhluk yang berakal, masyarakat khususnya generasi muda harus benar-benar menggunakan gadget di dunia digital dengan bijaksana.
Mengungkap Akar Masalah
Jebakan dunia digital yang membuat generasi kecanduan adalah bagian dari kesalahan sistem kehidupan. Jika teknologi terlahir karena kecerdasan manusia yang didukung sistem yang memfasilitasinya, maka kita harus mempertanyakan di mana sistem tersebut saat sekarang manusia terjebak dalam dampak negatif teknologi tersebut? Mengapa sistem tersebut tidak bisa mengatasi dampak buruk yang merusak generasi dan masyarakat?
Jawabannya, karena sistem itu sendiri telah rusak pada asasnya. Teknologi adalah benda mati yang dapat direkayasa sedemikian rupa untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Akan tetapi, hal tersebut berbeda dengan manusia. Manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan aturan yang tegas dan benar untuk mengarah pada kehidupan yang benar pula.
Saat ini, sistem yang tengah diterapkan adalah sistem sekularisme, di bidang ekonominya sistem kapitalisme. Dunia digital telah sukses menjadi bagian dari kehidupan manusia, sekaligus membuat manusia tidak berdaya tanpanya.
Namun, adanya ruang digital tersebut dibuat dengan asas sekularisme dan dibangun dengan otak kapitalisme. Ruang digital tidak dibuat untuk membantu manusia supaya lebih dekat dengan penciptanya, bertambah keimanannya, dan melahirkan manusia yang berkualitas secara ruhiyah. Dunia digital ada lebih pada prosfek bisnis dan keuntungan materi. Tidak menghiraukan dampak buruk yang siap menjebak manusia di dalamnya.
Terlebih generasi muda yang belum mempunyai kemandirian secara finansial maupun pendirian. Mudah bagi generasi ini terseret arus dunia digital, seperti tren-tren yang merugikan diri mereka. Dampaknya, generasi muda yang seharusnya lebih berpengaruh dalam kebangkitan peradaban emas, malah seringkali menjadi generasi bermasalah.
Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang bisa membawa dunia digital menjadi alat untuk kemakmuran rakyat, untuk mencerdaskan masyarakat, dan menjadikan masyarakat semakin baik. Baik dari aspek pemikiran maupun perbuatannya.






