NUIM HIDAYAT

Jadilah Teladan

Oleh: Nuim Hidayat (Direktur Forum Studi Sosial Politik)

Era kini adalah era keteladanan, era kolaborasi, dan zaman kerja sama. Dengan adanya internet yang menghubungkan berbagai wilayah di seluruh negara, dunia ini telah menjadi layaknya sebuah desa kecil (small village).

Bila pada masa lalu suatu bangsa dengan bangsa lain sering kali tidak saling mengenal sehingga memicu konflik atau peperangan, pada masa kini perang seharusnya tidak terjadi lagi. Dengan “sekali klik”, kinerja ( performance ) suatu bangsa dapat langsung diketahui, mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, militer, tokoh-tokohnya, hingga sumber daya alamnya.

Oleh karena itu, apabila terjadi potensi konflik, pencegahan seharusnya dapat dilakukan sejak dini. Langkah yang perlu diambil adalah menghubungi tokoh-tokoh bangsa tersebut untuk diajak bermusyawarah guna menyelesaikan masalah secara bijak melalui solusi yang saling menguntungkan ( win-win solution ).

Simbiosis mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan, dapat dibangun dalam hubungan antarnegara, sementara simbiosis parasitisme yang merugikan salah satu pihak dapat dihindari. Egoisme dalam hubungan internasional—prinsip egois yang hanya mementingkan kesejahteraan negara sendiri tanpa peduli pada negara lain—seperti yang dipraktikkan oleh mantan Presiden Donald Trump dan PM Benjamin Netanyahu, seharusnya disukai.

Memang, simbiosis mutualisme antarnegara ini bisa hancur jika seorang pemimpin memiliki ego yang tinggi (sombong) serta merasa diri dan negaranya paling unggul. Pemimpin atau negara lain sering dianggap sebagai kelas dua yang tidak selevel untuk berhadapan dengannya. Selain itu, hubungan yang saling menguntungkan ini juga akan memburuk jika ada pemimpin negara yang berambisi menjadi satu-satunya pihak yang dapat mengatur dunia internasional..

Pemimpin lain dianggap bodoh dan tidak memiliki kapasitas, sebagaimana tindakan yang dilakukan oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) melalui hak vetonya, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Prancis. Sebagaimana kita ketahui, DK PBB telah gagal menjalankan tugas menjaga keamanan dunia sejak tahun 1945. Mereka tidak mampu mencegah aksi kejahatan ketika Israel membunuh ribuan Muslim Palestina sejak tahun 1948.

PBB juga berdiam diri saat Amerika Serikat menginvasi Afganistan (2001), Irak (2003), dan Libya (2011), yang menyebabkan jutaan jiwa terbunuh.. Terakhir, PBB tidak berdaya menghadapi aksi kematian yang dilakukan Israel di Gaza sejak tahun 2023 hingga sekarang, padahal korban jiwa rakyat Palestina telah menembus puluhan ribu orang.

Dengan hadirnya internet, masyarakat dunia seharusnya dapat menganalisis dan mengetahui kebenaran agama di muka bumi secara rasional. Kitab-kitab suci yang ada dapat dibedah dan diperbandingkan secara kritis untuk menemukan mana ajaran yang autentik. Diteliti mana kitab suci yang tidak mengalami perubahan sejak zaman nabinya, serta mana kitab suci yang telah mengalami rekayasa ubahan tangan manusia atau bukan lagi wahyu murni karena ditulis oleh tokoh-tokoh agamanya.

Jika seluruh kitab suci diperbandingkan secara tujuan, dapat disimpulkan bahwa hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang terjaga kebenarannya. Kitab-kitab yang dianggap suci oleh pemeluk agama lain telah diubah oleh tangan-tangan pemuka agamanya, atau bahkan sejak awal dirancang oleh tokoh-tokoh tertentu demi melanggengkan kekuasaan jemaahnya.

Di dunia ini, hanya Al-Qur’an yang dicetak jutaan eksemplar setiap tahun, dibaca oleh ratusan juta orang setiap hari, serta dihafal oleh jutaan penghafal di seluruh penjuru dunia. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang kemukjizatannya dapat dirasakan sepanjang zaman.

Jika mukjizat para nabi terdahulu hanya dapat disaksikan oleh umat pada zamannya, kemukjizatan Al-Qur’an dapat dinikmati hingga kini, baik dari segi keindahan sastranya, kedalaman maknanya, maupun sentuhan spiritualnya kepada siapa saja yang menyimaknya. Nabi Muhammad melihat. yang membawa Al-Qur’an adalah satu-satunya nabi dengan kepribadian paling sempurna sebagai manusia.

Sejak muda, beliau telah diberi julukan al-Amin (yang terpercaya) oleh masyarakat Makkah. Saat beranjak remaja, ia mampu menyelesaikan konflik antarsuku melalui kecerdasan visionalnya dalam meletakkan batu Hajar Aswad di Ka’bah, di mana ia membentangkan kain dan meminta setiap kepala suku memegangi ranting secara bersama-sama. Ketika dewasa, beliau menjadi suami teladan dalam rumah tangga, sahabat sejati di tengah para pengikutnya, pemimpin yang adil di masyarakat, pendidik ulung, panglima perang yang bijaksana, serta Rasul teladan di antara para nabi yang diutus Allah Swt.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button