SUARA PEMBACA

Miris, Virus Judol dan Pinjol Menjalar di Dunia Anak

Islam memandang pendidikan bukan sekadar pembentuk keterampilan, tapi pembangun kepribadian. Anak didik diarahkan untuk memahami tujuan hidupnya: menjadi hamba Allah dan khalifah di bumi. Dari sini lahirlah pelajar yang sadar halal-haram, bukan sekadar “anak baik” yang tahu etika dunia maya.

Karena itu, solusi tidak cukup hanya dengan menambah jam pendidikan karakter atau literasi digital. Yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan Islam kaffah—yang menyatukan antara ilmu, akidah, dan syariah dalam setiap proses belajar.

Negara pun tidak bisa berperan pasif. Dalam sistem Islam, negara wajib memastikan seluruh sumber kemaksiatan tertutup rapat: menutup situs-situs judi online, menghapus sistem pinjaman ribawi, serta memberikan sanksi tegas kepada pelaku. Semua itu bukan semata urusan moral, tapi bagian dari tanggung jawab negara dalam menjaga akidah dan keselamatan warganya.

Selama negeri ini tetap berdiri di atas sistem kapitalisme, selama itu pula generasi akan terus menjadi korban. Negara hanya sebagai regulator, bukan benteng pelindung iman generasi. Hanya dengan kembali pada Islam kaffah, benteng generasi dapat dibangun kembali, benteng yang menolak ilusi dunia maya dan berdiri kokoh di atas keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab. []

Mahrita Julia Hapsari, M.Pd., Pendidik di Banjarmasin.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button