Miskonsepsi Hubungan Ibadah dan Rezeki
Ibadah tak boleh diniatkan untuk mendapatkan perhiasan dunia termasuk rezeki. Karena akan menjadi amal yang sia-sia di sisi Allah Swt. Apalah guna ibadah jika hanya mengharap balasan duniawi yang fana. Allah Swt berfirman:
مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا وَزِینَتَهَا نُوَفِّ إِلَیۡهِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِیهَا وَهُمۡ فِیهَا لَا یُبۡخَسُونَ (15) أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ لَیۡسَ لَهُمۡ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِیهَا وَبَـٰطِلࣱ مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ (16)
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Hud ayat 15-16).
Ibadah Ikhlas untuk Kebaikan Dunia dan Akhirat
Ibadah sebagai wujud ketakwaan secara pasti berimpak pada kehidupan dunia dan akhirat. Di dunia berupa ziyadatul khair (keberkahan) dan tuma’ninah (ketenangan).
Ziyadatul khair maksudnya tambahan amal kebaikan dari waktu ke waktu dalam kehidupannya. Karena tak ada balasan kebaikan selain kebaikan. Setiap melakukan amal ketakwaan dengan ikhlas, akan Allah buka pintu kebaikan lain. Tak hanya itu Allah menjadikan diri istiqamah dalam melakukannya. Sehingga dari waktu ke waktu kebaikan dan kebaikan yang didapatkan. Allah Swt berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Al A’raf ayat 96).
Tuma’ninah maksudnya ketenangan dalam menyikapi sepelik apapun masalah kehidupan hatta masalah yang mengancam nyawa. Karena dirinya mempunyai ilmu dan bersandar pada Allah semata. Tak berputus asa dan tak mengeluh. Bahkan mencintai masalah yang ada karena datangnya dari Allah yang mencintai hambaNya. Masalah adalah ujian dari Allah untuk menghapus dosa-dosanya dan meningkatkan derajat di sisi-Nya.
Balasan di akhirat berupa kebahagiaan abadi dari Allah (surga, pasangan suci, perlindungan dan keridhaan Allah). Allah tak pernah menyia-nyiakan amal ibadah hambaNya. Dia lah sebaik baik pemberi balasan. Allah Swt berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An Nahl ayat 97).
قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ١٥
“Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya (QS. Ali ‘Imran ayat 15).
Ziyadatul khair, tuma’ninah dan surga adalah nikmat berharga dari Allah Swt, buah dari ibadah yang ikhlas (ketakwaan). Jadi setop normalisasi ibadah untuk duniawi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan.






