NUIM HIDAYAT

Nabi Muhammad di Mata Orientalis dan Ulama Islam

Voltaire (1694–1778), filsuf Prancis, dalam drama “Mahomet, ou le Fanatisme”, ia menggambarkan Nabi sebagai simbol fanatisme religious Muhammad adalah simbol dramatik, bukan tokoh historis objektif.

Ernest Renan (1823–1892), filolog dan sejarawan Prancis, menganggap Islam tidak mendukung rasionalitas dan bahwa Muhammad “menghentikan kemajuan ilmiah”. Sedangkan Patricia Crone & Michael Cook (abad 20), menulis “Hagarism” (1977). Mereka menyatakan banyak aspek awal Islam bukan dari tradisi Arab, tapi pengaruh Yahudi-Suriah.

Pandangan orientalis, baik positif maupun negatif, tidak mempengaruhi pandangan umat Islam kepada Nabi Muhammad. Dalam memandang Nabinya, umat Islam lebih merujuk kepada pandangan para ulama Islam yang terlihat lebih obyektif.

Para ulama Islam melihat Rasulullah saw bukan hanya seorang Nabi, tapi juga pemimpin yang mengubah peradaban dunia menjadi manusiawi. Pemimpin yang mengubah tradisi jahiliyah menjadi tradisi ilmu atau berfikir. Mengubah akhlak masyarakat yang buruk menjadi akhlak Islam yang penuh kemuliaan.

Imam Al-Ghazali menulis bahwa akhlak Nabi adalah “akhlak yang mencapai puncak kesempurnaan insani, hingga menjadi timbangan bagi akhlak manusia.”

Imam Al-Bushiri, dalam Qasidah Burdah, menggambarkan Nabi sebagai poros yang membuat para nabi lain memandang penuh cinta,“Muhammad itu bagaikan matahari, sementara para nabi lainnya adalah bagaikan bintang-bintang; mereka memancarkan cahaya karena memantulkan cahayanya.”

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyimpulkan, “Tidak ada manusia yang lebih agung akhlaknya, lebih luhur misinya, dan lebih luas pengaruhnya dalam sejarah selain Muhammad.”

Ulama besar tanah air, Buya Hamka memandang Nabi Muhammad sebagai puncak akhlak, revolusioner moral, dan pembebas manusia dari kezaliman.

Dalam “Sejarah Umat Islam” dan “Tasawuf Modern”, Hamka menyebut Nabi sebagai model sempurna bagi manusia modern. “Nabi Muhammad adalah akhlak. Barangsiapa mencintai beliau, hendaklah ia menghiasi hidupnya dengan akhlak itu.” Ia juga menyatakan, “Budi pekerti Muhammad menjadi pelita yang tak akan padam.”

KH Ahmad Dahlan melihat Nabi Muhammad sebagai reformis sosial dan pembangun masyarakat berkemajuan. Ia menyatakan bahwa meniru Muhammad harus dengan amal. Nabi tidak mengajar untuk tidur dan berdiam diri.

Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari menekankan Nabi sebagai guru akhlak, penjaga tradisi ilmu, dan pemimpin spiritual umat. Dalam “Adabul ‘Alim wal Muta’allim”, ia menggambarkan bahwa ilmu yang benar selalu berhubungan dengan cinta kepada Nabi. Ia menyatakan,“Mengikuti jejak Nabi adalah adab. Adab mendahului ilmu, sebagaimana Muhammad mendahului umatnya dalam kemuliaan.”

Mohammad Natsir menempatkan Nabi Muhammad sebagai contoh negara berlandaskan moral, bukan kekuasaan. Dalam “Capita Selecta”, ia menggambarkan Nabi sebagai kepala negara, pemimpin etis, dan komunikator dakwah. Ia menyatakan, “Pada Muhammad, agama bukan alat kekuasaan, kekuasaan tunduk pada agama.” Ia juga menyatakan, “Negara tanpa akhlak Muhammad adalah bangunan tanpa fondasi.” []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button