Darurat Kaderisasi Ulama di Era Digital
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4]: 59).
Kini, kita dihadapkan dengan kenyataan pahit yang sangat mengkhawatirkan hingga menyayat hati. Fenomena ini ditandai oleh semakin langkanya sosok ulama sejati di tengah masyarakat.
Satu per satu ulama yang lurus dan menjadi pilar umat Islam telah wafat mendahului kita. Di sisi lain, kepedulian publik terhadap kaderisasi ulama justru semakin lenyap ditelan arus digitalisasi.
Tak dapat dimungkiri, berbagai lembaga pendidikan Islam kini seolah tidak lagi memprioritaskan kaderisasi ulama. Kondisi ini diperparah oleh isu negatif yang menerpa beberapa pondok pesantren di sejumlah daerah di Indonesia.
Pesantren yang seharusnya menjadi dapur kaderisasi ulama justru tercoreng oleh oknum kiai atau gus yang tega menodai santri mereka sendiri. Padahal, kehadiran ulama di muka bumi memiliki urgensi yang sangat vital.
Mereka adalah pewaris para nabi (warasatul anbiya) yang bertugas menuntun umat. Ulama juga mengemban amanah untuk menjaga akhlak serta akidah Islam dari hantaman fitnah akhir zaman.
Namun, di tengah kondisi zaman yang kian rumit, sebagian ulama yang ada saat ini dinilai kurang taktis dan tegas dalam merespons persoalan umat. Jika krisis keulamaan ini terus diabaikan, problematika umat akan semakin menyeret masyarakat ke titik yang sangat mengkhawatirkan.
Ketika realitas sosial sudah berada di luar kendali logika sehat, kita wajib mengembalikan semua problematika tersebut kepada tuntunan tertinggi, yaitu Al-Qur’an dan sunah. Langkah ini tentu harus disertai dengan merujuk pada pendapat para ulama yang khasyyatullah (hanya takut kepada Allah Swt.).
Pijakan Urgensi Kehadiran Ulama
Karakter Ulama yang Hakiki
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fatir [35]: 28).
Kedudukan Teologis Ulama
إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Siapa yang mengambil ilmu darinya, maka ia telah mengambil bagian keuntungan yang sangat banyak.” (Sahih Bukhari, Kitab al-Ilm, Bab al-Ilm Qabla al-Qaul wa al-Amal, Juz 1, hlm. 22).
Fungsi Sosial Ulama
لَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ مِثْلَ الْبَهَائِمِ أَيْ أَنَّهُمْ بِالتَّعْلِيْمِ يُخْرِجُونَ النَّاسَ مِنْ حَدِّ الْبَهِيْمَةِ إِلَى حَدِّ الْإِنْسَانِيَّةِ
“Seandainya tidak ada ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang. Artinya, melalui pengajaran dan pendidikan ulama, manusia terbimbing bisa keluar dari tabiat hewani untuk menuju derajat kemanusiaan yang mulia.” (Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz 1, hlm. 7).






