NUSANTARA

Jalin Kedekatan di Kairo, Markaz Tathwir Al-Azhar Sambut Hangat Pesantren Elkisi

Kairo (Suaraislam.id)-Hubungan kerja sama dan silaturahmi antara Pesantren Elkisi Mojokerto dengan institusi Al-Azhar Mesir kini memasuki babak baru yang semakin erat dan penuh kehangatan.

Langkah bersejarah tersebut ditandai dengan hadirnya pimpinan Pesantren Elkisi dalam memenuhi undangan ifthar jama’i (buka puasa bersama) resmi dari Markaz Tathwir Al-Azhar Asy-Syarif dan Muasasah An-Naf’u Mesir di Kairo pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Undangan eksklusif dari Markaz Tathwir ini dinilai sebagai bentuk kepercayaan nyata dan pengakuan tulus terhadap komitmen serta mutu pendidikan yang selama ini dibangun oleh Pesantren Elkisi.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut dipandu oleh Dr. Husyam Syakir dan dihadiri langsung oleh Penasihat Grand Syeikh Al-Azhar, Dr. Nahlah Shaidy, bersama Dr. Ridho Abdus-Salam serta Direktur Muasasah An-Naf’u.

Penyambutan penuh penghormatan ini menjadi sebuah isyarat kuat bahwa Pesantren Elkisi kini telah dipandang sebagai sahabat seperjalanan yang strategis dalam dakwah dan pendidikan Islam.

Dalam wejangannya malam itu, Dr. Nahlah Shaidy merumuskan lima poros kekuatan utama yang harus dimiliki oleh setiap Muslim di era modern.

“Seorang Muslim harus kokoh imannya, istiqamah amalnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan mandiri hartanya,” tutur Dr. Nahlah Shaidy dengan penuh ketulusan.

Kesamaan visi dalam merawat pilar-pilar kekuatan umat inilah yang mempertemukan Markaz Lughah Pesantren Elkisi dengan Markaz Tathwir Al-Azhar dalam satu barisan perjuangan yang harmonis.

Bagi Pesantren Elkisi, jalinan kedekatan ini memberikan peluang emas bagi para santri untuk menyambung sanad keilmuan secara langsung serta melapangkan jalan menuju mata air ilmu Al-Azhar.

Selain memperkuat legitimasi kelembagaan, kemitraan ini juga diproyeksikan mampu mengakselerasi program kaderisasi santri eLKISI untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar kian nyata.

Dalam pertemuan tersebut, Pesantren Elkisi tidak sekadar hadir sebagai tamu biasa, melainkan bertindak sebagai mitra dialog yang aktif bertukar pikiran demi kemajuan umat.

Kedua belah pihak saling berdiskusi hangat mengenai strategi pengokohan bahasa Arab, penyiapan ulama masa depan, hingga kontribusi nyata Indonesia dalam peta peradaban Islam dunia.

1 2Laman berikutnya
Back to top button