Netanyahu Tergilas Poros Washington
Kelemahan Netanyahu
Seorang mantan pejabat keamanan Israel mengatakan, “Netanyahu memiliki satu kelemahan strategis yang signifikan—kurangnya kemauan atau kemampuan untuk membuat keputusan sulit yang melengkapi gerakan militer.”
Akibatnya, menurut para kritikus, rezim Iran tetap bertahan, program nuklirnya belum terselesaikan, dan jaringan proksi regional seperti Hizbullah serta Hamas masih aktif.
Dari dinamika ini, terlihat jelas bahwa Netanyahu telah menjadi korban dari narasi yang selama ini ia bangun sendiri.
Selama tiga dekade, ia mendefinisikan dirinya sebagai pemimpin yang hanya mengandalkan kekuatan militer dan tekanan maksimal untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran.
Namun, ketika Trump memilih jalan diplomasi dan mengesampingkan tuntutan Israel, seluruh doktrin itu runtuh.
Danny Citrinowicz dari Israel Institute for National Security Studies (INSS) menyebut ini sebagai “kegagalan strategis yang nyaring” setelah “berbagai putaran keberhasilan operasional.”
Ironisnya, Netanyahu justru disalahkan oleh sekutu sayap kanannya sendiri karena dianggap terlalu lunak, sementara di mata Washington ia dianggap terlalu keras kepala.
Netanyahu terjebak di antara dua tekanan, yakni mempertahankan koalisi pemerintahannya yang rapuh dengan Ben Gvir dan Smotrich, atau menjaga hubungan baik dengan Trump yang telah berkali-kali menunjukkan bahwa ia tidak segan-segan mengambil alih kendali perang dari tangan Netanyahu.
Trump sendiri dengan gamblang menyatakan pekan lalu: “Bibi (Netanyahu) orang baik, dia akan melakukan apa yang saya perintahkan.”
Lebih dalam lagi, ini bukan pertama kalinya Trump secara sepihak menghentikan perang yang dimulai atau diinginkan Netanyahu.
Di Gaza, Iran, dan Lebanon, pola yang sama berulang, yakni Netanyahu ingin perang berlanjut, sedangkan Trump tidak menghendaki hal itu.
Kritikus menilai bahwa Netanyahu “tidak pernah tahu kapan harus berhenti dan memotong kerugian.”
Akibatnya, meskipun Israel berhasil melancarkan serangan-serangan spektakuler, posisi strategis Israel justru memburuk.
Survei INSS menunjukkan bahwa 45 persen warga Israel meyakini situasi dengan Iran memburuk dibanding sebelum 7 Oktober 2023, sementara hanya 31 persen yang melihat perbaikan.
Hampir setengah responden percaya bahwa Israel mungkin tidak akan menang atau sudah kalah dalam perang melawan Iran.






