Netanyahu Tergilas Poros Washington
Kehilangan ‘Narasi Kemenangan’
Dengan pemilu legislatif Israel yang sudah di depan mata, Netanyahu kehilangan narasi kemenangan yang ingin ia jual.
Trump tampaknya menyadari hal ini dan berusaha memberi “kompensasi politik” berupa tekanan pada Arab Saudi dan negara Teluk untuk memperluas Abraham Accords, sebuah upaya yang juga diragukan keberhasilannya mengingat tuntutan Saudi akan jalur kredibel menuju kemerdekaan Palestina.
Nasib Netanyahu saat ini sejatinya adalah pelajaran pahit bagi setiap pemimpin yang terlalu bergantung pada sekutu besar yang memiliki kepentingan sendiri.
Trump yang sedang menghadapi pemilu paruh waktu AS dan ingin menunjukkan bahwa ia yang mengendalikan kebijakan Timur Tengah—bukan sebaliknya—tidak ragu mengorbankan ambisi Israel demi kesepakatan yang bisa ia klaim sebagai keberhasilan diplomatik.
Bagi Netanyahu, yang pernah menganggap hubungan dengan Trump sebagai aset terbesarnya, kini aset itu berubah menjadi beban.
Kesepakatan yang muncul—apa pun bentuknya—akan menjadi batu nisan bagi warisan politiknya.
Jika ia menerima kesepakatan yang tidak memuaskan, ia akan dihantam oleh kubu kanan sendiri.
Jika ia menolak, ia akan kehilangan dukungan Washington yang selama ini konsisten sebagai sekutu utamanya.[]






