SUARA PEMBACA

Palestina Butuh Persatuan Umat

Semua mata harusnya tertuju pada Palestina. Air mata dan darah bercucuran tiada henti di sana. Tak hanya umat Islam bahkan non-Islam juga berteriak menyatakan protes akan aksi genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Kebiadaban ini harus dihentikan. Telah banyak solusi tapi itu seakan tak berarti. Sekarang, yang menjadi pertanyaannya adalah apa seharusnya solusi untuk mengakhiri kekejaman tentara Yahudi ini?

Sebuah gambar buatan AI yang menampilkan tenda-tenda pengungsi Palestina dan slogan bertuliskan ‘All Eyes on Rafah’ menjadi perbincangan hangat di media sosial. Unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 47 juta kali oleh pengguna Instagram termasuk selebritas seperti Dua Lipa, Lewis Hamilton, serta Gigi dan Bella Hadid. Gambar dan slogan tersebut menjadi viral setelah serangan udara Israel dan kebakaran yang terjadi di sebuah kamp pengungsi Palestina di Kota Rafah, Gaza selatan, awal pekan ini.

Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan sedikitnya 45 orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam insiden tersebut. Israel mengatakan telah menargetkan dua komandan Hamas dan kebakaran mematikan itu mungkin disebabkan oleh ledakan sekunder. (lihat: bbc.com)

Gelombang demo besar-besaran terus meluas. Para akademisi turun ke jalan menunjukkan solidaritas terhadap warga Palestina. Mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga ke Asia.

Seluruh mahasiswa unjuk rasa menuntut pemerintah dunia mengambil tindakan tegas agar Israel berhenti melancarkan operasi militernya di Gaza. Mereka terus menyerukan gerakan agar perguruan tinggi melakukan divestasi dari perusahaan yang mendukung Israel. (lihat: cnbcindonesia.com)

Koalisi masyarakat melakukan unjuk rasa di seberang Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jumat (31/5/2024). Berdasarkan pantauan Kompas.com sekitar pukul 15.30 WIB, puluhan anak muda telah berkumpul di lokasi sambil membawa isi tuntutan mereka yang ditulis tangan. Suara dan dukungan mereka terhadap Palestina ini ada yang ditulis dalam bahasa Inggris. Misalnya, “LPDP boycott Ivy League”, “The United States Govt is complicit responsible for genocide”, “stop bombing civilian you moron!”. (lihat: kompas.com)

Ada masalah tentu ada akar masalah. Akar permasalahan yang terjadi di Palestina adalah sebuah penjajahan. Penjajahan ini dimulai dari berdirinya negara zionis Israel pada tahun 1948 melalui dukungan Inggris, Amerika dan PBB. Saat itu, Israel membangun pemukiman untuk penduduk Yahudi di atas tanah kaum Muslim Palestina. Akibatnya, pengusiran besar-besaran pun dilakukan, disertai dengan pembunuhan dan pembantaian, dan itu terus terjadi sampai sekarang. Artinya sudah lebih dari 75 tahun penderitaan ini dialami oleng bangsa Palestina sampai sekarang.

Sebelum Israel bercokol di Timur Tengah khususnya di Tanah Palestina yang mereka diami sekarang. Palestina merupakan bagian dari wilayah Kekhilafahan Utsmaniyah. Keinginan bangsa Yahudi untuk punya tanah air sendiri sudah lama terpendam. Salah seorang tokoh Yahudi bernama Theodore Herzl (1860-1904) menulis cita-citanya dalam buku yang berjudul DerJudenstadt (Negara Yahudi). Sehingga pada tahun 1896 M, pemimpin Yahudi Internasional Theodore Herzl ditemani Neolanski mendatangi Khalifah Abdul Hamid di Konstantinopel agar Khalifah memberikan Tanah Palestina kepada Yahudi. Walaupun diiming-imingi uang dalam jumlah besar, permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Khalifah Abdul Hamid.

Pada tahun 1902, delegasi Herzl kembali mendatangi sultan Hamid dengan iming-iming yang lebih besar, akan tetapi hal tersebut tidak merubah pendirian sultan Hamid. Setelah itu, kaum zionis mencari cara lain dengan menggunakan kekuatan negara Inggris. Bagaimana caranya? Yakni dengan menjerat negara Inggris dengan utang beserta ribanya. Hal ini terjadi pada pasca Perang Dunia I. Akhirnya, secara resmi pada tanggal 14 Mei 1948, melalui dukungan Inggris, Amerika Serikat dan PBB, diproklamirkanlah pendirian negara Israel di atas tanah wakaf milik kaum Muslim, yakni Palestina. Saat itulah dimulai penderitaan bangsa Palestina di bawah pendudukan dan penjajahan Zionis Israel.

Sudah 75 tahun berlangsung penjajahan terhadap bangsa Palestina. Sebagaimana kita tahu, berbagai solusi ditawarkan tapi nyatanya penjajahan itu masih berlangsung dan makin biadab. PBB menawarkan solusi sistem satu tanah untuk dua negara (two-state solution) pada 1974. Tawaran ini sungguh tidak adil. Solusi tersebut sama saja artinya mengakui keberadaan negara Israel di tanah wakaf milik kaum Muslim.

Selain itu, sebagian kaum Muslim ada yang berpendapat bahwa solusi Palestina adalah dengan doa. Namun, berdoa saja tentu tidaklah cukup. Perlu ada upaya sungguh-sungguh untuk menghentikan kebiadaban pembantaian terhadap bangsa Palestina oleh Zionis Israel tersebut.

Begitupun dengan solusi pengiriman bantuan dana dan obat-obatan. Itu juga sudah dilakukan. Akan tetapi, apa yang terjadi di Palestina harus dilihat dari dua sisi, yakni korban (Palestina) dan pelaku (Israel). Batuan dana dan obat-obatan bisa dilakukan untuk para korban, tapi apakah bantuan tersebut bisa menghentikan jumlah korban berikutnya? Tentu tidak. Maka dari itu untuk sisi pelaku harus ada solusi yang hakiki untuk mengakhiri penderitaan kaum Muslim Palestina saat ini.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button