QUR'AN-HADITS

Paparan Konten Negatif: Analisis Doomscrolling dan Relevasinya dengan Al-Qur’an

Namun, bagi pihak yang diumpamakan, semua itu tetap tidak bermakna karena mereka tidak memiliki kesiapan akal. Kata صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ dijelaskan sebagai kondisi batin yang terhalang dari kebenaran, sedangkan لَا يَعْقِلُونَ menunjukkan ketidakfungsian akal akibat tidak digunakan untuk memahami. Kajian kosa kata ini memperlihatkan betapa dalamnya makna ayat dalam menggambarkan manusia yang dipenuhi suara tetapi kehilangan pemahaman.

Sedangkan Quraish Shihab, menyoroti sisi psikologis ayat ini yaitu gambaran manusia yang memiliki panca indra tetapi gagal mengfungsikannya. Mereka diibaratkan seperti penampung suara tanpa makna: informasi yang masuk tapi tidak diolah.

Keempat mufassir sepakat bahwa QS. Al-Baqarah ayat 171 menggambarkan manusia yang menerima informasi tanpa pemahaman karena akal dan hati mereka tidak difungsikan, dengan perbedaan penekanan pada tafsir, Ibnu Katsir pada perumpamaan moral, Wahbah az-Zuhaili pada kerusakan fungsi hati dan akal, At-Thabari pada analisis riwayat dan objek perumpamaan, serta Quraish Shihab pada aspek psikologis pengolahan informasi.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya pengendalian diri dalam penggunaan media sosial. Ayat ini mengajarkan kita bahwa akal adalah amanah yang harus dijaga dari hal-hal yang dapat merusaknya, termaksud paparan konten negatif yang tidak terkendali. Kemampuan menyaring informasi, dan kebiasaan bermedia secara bijak menjadi kebutuhan mendesak agar terhindar dari krisis kejernihan berpikir.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa doomscrolling merupakan fenomena digital yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan kemampuan berpikir, terutama pada remaja yang intens berinteraksi dengan media sosial.

Surah Al-Baqarah ayat 171 memberikan gambaran bahwa banyaknya informasi yang diterima tanpa melibatkan akal dan hati dapat menyebabkan hilangnya pemahaman dan kejernihan berpikir.

Oleh karena itu, pengendalian diri dalam bermedia sosial menjadi sangat penting, disertai dengan kemampuan memilah informasi secara kritis. Selain itu, kesadaran untuk mengoptimalkan fungsi akal sebagai amanah perlu terus dibangun agar arus informasi di era digital tidak melemahkan nalar, melainkan mendorong sikap berpikir yang lebih bijak dan bertanggung jawab.[]

*Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button