QUR'AN-HADITS

‘Mindfulness Qur’ani’: Meraih Ketenangan Jiwa Lewat Tadabbur Al-Qur’an

Oleh: M. Anwar Djaelani, Penulis 15 Judul Buku.

Siapa yang tidak memiliki beban hidup? Pasti, semua manusia sejak mukalaf sampai wafat akan menemui berbagai ujian.

Oleh karena itu, kita membutuhkan panduan agar tetap bisa hidup tenang dan bahagia meski sedang menghadapi cobaan. Buku ini hadir untuk menjawab persoalan tersebut.

Pertama, lewat judul dan tagline-nya, buku Mindfulness Qur’ani menjanjikan kajian tentang bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama saat menghadapi semua masalah keseharian. Kedua, penulisnya adalah sosok yang tepat untuk mengulas tema ini.

Dr. Bandar bin Salim Asy-Syarari adalah seorang ulama, akademisi, dan penulis yang aktif. Sebagai akademisi, ia pernah mengajar di Jurusan Al-Qur’an dan Ilmu-Ilmunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi.

Ia merupakan penulis produktif yang menggabungkan kajian Islam dengan pendekatan psikologi, pengembangan diri, dan tadabur.

Tiga yang Menyatu

Mari buka buku dengan sampul berwarna krem yang teduh dan bergambar seorang lelaki sedang membaca Al-Qur’an ini. Terdapat banyak pasal di dalamnya.

Pada tiap pasal, penulis membagi struktur menjadi tiga bagian. Bagian tersebut adalah Ayat, Inspirasi Ketenangan, dan Pojok Inspirasi.

Menurut penulis, buku ini berusaha menjawab jenis-jenis kegelisahan yang boleh jadi dirasakan oleh sebagian orang. Penulis berusaha menghadirkan sentuhan ketenangan berdasarkan ayat yang disertai sedikit ulasan tambahan serta beberapa renungan.

Harapannya, pembaca akan mendapatkan ketenangan jiwa (halaman 7).

Silakan lihat contoh menarik berikut ini. Judul pasalnya adalah “Reuni Keluarga Terbesar” (halaman 219).

Pada bagian pertama, pembahasan dimulai dengan ayat QS At-Tur [52]: 21. Ayat tersebut bermakna: “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal perbuatan mereka.”

Di bagian kedua, tertulis sebuah Inspirasi Ketenangan.

”Bersemangatlah untuk memperbaiki diri dan memperbaiki keturunan, serta berprasangka baiklah kepada Allah tentang hasil yang baik; karena Allah mengumpulkan anak-anak bersama orang tua di surga. Meskipun anak-anak mungkin kurang saleh dibandingkan orang tua, yang terpenting adalah mereka meninggal dalam keadaan beriman” (halaman 219).

Intinya, binalah keluarga kita dengan baik.

”Semua pertemuan keluarga kita tidak ada nilainya jika kita tidak menjaganya dari segala sesuatu yang bisa menjadi penyebab perpecahan dan ketidakhadiran kita bersama di surga”.

Ketahuilah, lanjut Bandar bin Salim Asy-Syarari, kedudukan tinggi bagi anak-anak di sini tidak lain karena berkah amal dan doa orang tua serta karena berkah iman anak-anak. Allah tidak mengangkat derajat anak-anak kecuali jika mereka beriman (halaman 220).

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button